
Malam yang indah bulan bersinar
terang, bintang – bintang bertaburan menghiasi langit malam, udara yang sejuk,
dan semilir angina yang semridik.
Malam ini aku merasa senang sekali,
hati ku berbunga – bunga dan hati ku ini serasa di hiasi beribu cahaya, seperti
bintang dilangit saat handphone ku berbunyi dan aku mendapat satu pesan dari
Doni yaitu ucapan selamat malam.
“Mlm…”
Hati ku bergetar rasanya ingin
melayang diudara setelah mendapat pesan dari Doni, walaupun Cuma ucapan selamat
malam saja. Dia teman sekelasku, dia orangnya pemalu dan akupun sudah lama
naksir sama Doni, entahlah kenapa, aku bisa suka sama Doni, tidak ada yang
dapat dibanggakan dari Doni, ganteng, juga enggak, apalagi pintar juga enggak.
Tapi aku suka sifatnya yang pendiam itu. Dan juga sifat pemalunya itu. Awalnya
aku tidak akrab sama dia, walaupun teman satu kelas aku jarang sekali boleh
dikata tidak pernah berbicara sama dia apa lagi ngobrol belum pernah sama
sekali.
Suatu malam Doni mengirimkan aku
pesan lewat telephon seluler atau sering disebut Handphone. Tiap hari dia
selalu menghubungi ku, entah itu, pagi, siang, sore, bahkan tengah malam di
saat aku sudah pulas – pulasnya tidur. Dan kita menjadi akrab dia selalu
menyapa ku kalau kita ketemu dimanapun dia selalu menyapa ku entah itu di dalam
kelas, di tempat parkir ataupun dijalan tiba – tiba Handphone ku berbunyi
tu…tu…tu… suara dari Hp ku. Setelah aku buka ternyata pesan baru dari Doni.
Entah kenapa aku merasa senang sekali ketika aku mendapat sms dari Doni. Dan
pesan itu sama persis yang dia kirim pada malam kemarin. Yaitu ucapan selamat
malam yang bertuliskan.
”Mlm… dan dia juga bertanya kepada
ku”
“Gi apa nih”
“Aku tambah senang dengan pertanyaan
itu dan beberapa lama kemudian akupun membalasnya”
“Mlm juga,, gw gi nuphy nic” itu lah
jawaban ku yang ku kirim kepadanya, dia juga membalas pesan ku yang ku kirim
kepadanya”
”Ooooo yaaaaa?”
Lama sekali kita smsannya dia
membiri ku bermacam – macam pertanyaan mulai tugas sekolah sampai – sampai dia
juga menanyakan film kesukaan ku. Aku diberikan pertanyaan – pertanyaan itu
perasaan hati ku tambah tidak karuan.
Duhhhh… apakah ini yang dinamakan
cinta… kalau ini bener – bener cinta yang kurasa saat ini, ini adalah cinta
pertama yang pernah kurasakan dalam hidup ku.
Lala temanku mengetahui bahwa aku suka sama
Doni.
“Ka, akhir – akhir ini kamu kok
kayaknya senang banget sih”. Tanya Lala kepada ku.
“Ahh… masak?” kayaknya biasa – biasa
saja dech, aku menjawab sambil senyum – senyum.
‘Enggak Siska, kamu aneh banget dech
ada apa sih?”
“Aku tidak menjawab pertanyaan Lala,
aku hanya tersenyum – senyum sendiri kayak orang gila’
‘Kamu dapet undian ya”? Tanya Lala lagi kepada ku
“Ya, bisa dibilang kayak gitu dech”,
jawab ku.
“Lala menggelengkan kepala herang kepada
sikap ku akhir – akhir ini”
Dan saat aku berjalan dengan Lala
untuk pulang kerumah. Tak disangka aku bertemu dengan Doni dijalan, dia
tersenyum kepada ku, dan aku pun tersenyum kepada dia.
Dan Kakaknya Lala tahu kenapa akhir
– akhir ini selalu senang dan ceria. Lala tiba – tiba berbicara mengagetkanku
dan mengalihkan pandangan
O”oh…oh…oh… aku tau kenapa kamu akhir
– akhir ini terlihat hapy, gara – gara Doni’? Emangnya kamu dikasih apa sama
Doni kok bisa membuat kamu seperti saat ini.
“Aku tidak dikasih apa – apa kok
sama Doni!”
“Oh… aku tau… jangan – jangan kamu
suka ya sama Doni?”
“Ihh.. apaan sih.. orang aku gak
suka kok sama dia”?
Aku berbohong kapada Lala dengan
perasaan ku, padahal sebetulnya aku sangat suka dengan Doni, ucapan ku di dalam
hati.
“Aduh.. ngaku aja dech .. kamu itu
tidak bisa membohongiku”
“Duh.. kamu apa – apaan sih, kok
kita jadi ngebicarain Doni sih”!
“Kalau kamu bener – bener suka sama
Doni, tenang aja aku pasti bantuin kamu untuk mendapatkan Doni”
“Kamu gila apa?”
“Lho kok kamu ngatain aku gila sih?”
“Ya iyalah,, dia kan udah punya
pacar, mana mungkin kamu bisa bantuin aku untuk mendapatkannya sih.., kamu ini
ada – ada aja sih, kok kamu jadi ngotot sih…, katanya kamu gak suka sama Doni”
“Pemz… aku malu dengan perkataannya
Lala”
“Ketauankan kalau kamu suka sama
Doni?”
“Enggak kok, kamu jangan asal nuduh
gitu donk!”
‘Emang kenyataannya kok, buktinya
kamu marah kalau aku mau bantuin kamu untuk mendapatkannya, kamu tidak yakin
kamu bisa mendapatkannya karena dia punya pacar!”
Aku hanya diam mendengar Lala
berbicara lagi pula Doni gak pantas rasanya kalau berpasangan dengan Rinta.
Mereka merupakan pasangan yang serasi di sedunia ini, Doni lebih serasi jika
berpasangan dengan kamu bagaikan Romeo dan Juliet. Aku semakin geli mendengar
ocehannya Lala iiihh…udah dech gak usah membicarakan mereka. Lala malah
membicarakan mereka lagi, ingin rasanya aku pergi dari Lala dan kembali saat
dia sudah selesai bebicaranya, kata ku didalam hati.
“Eeehhh… kalau dilihat – lihat ya
kayaknya Doni itu gak suka sama Rinta, kayaknya kesan Doni itu berpacaran sama
Rinta itu kepaksa banget!”
“Mana ada,, orang pacaran kepaksa!
Dimana – mana orang berpacaran itu dilandasi dengan cinta”
“Tapi sis, mereka berdua itu berbeda
dengan pasangan lain. Kayaknya Doni ditembak duluan dech sama Rinta trus
Doninya gak mau dan Rintanya memaksa Doni untuk jadi pasangannya.”
“Sok ..tahu kamu” aku mempercepatt
langkah ku. Lala berlari kecil mengejar ku.
Dan akhirnya sampai dirumah jaga. Kita sambung pembicaraan kita besok
lagi ya. Kata Lala sambil melambaikan tangan kepada ku. Aku hanya tersenyum,
dan aku membalas lambaian tangan dari Lala memang sih rumah ku dan rumah Lala
sangat dekat, bahkan rumah kami bersebelahan aku dan Lala jarang sekali keluar
rumah bersama – sama kalaupun keluar rumah itu hanya untuk mencari tugas dari
sekolah.
Pagi harinya aku siap – siap untuk
pergi sekolah Ibu ku telah menyiapkan roti dan susu hangat untuk aku, adik ku
Leni dan Ayah, aku dan adik ku memang setiap berangkat sekolah diantarkan oleh
Ayah karena arah sekolahku dan kantor Ayah sama tapi pulang sekolah kami selalu
berjalan kaki karena jarak rumah dari sekolah dekat.
Siang ini aku mengikuti pelajaran
dengan nyaman tidak ada kendala satu apa pun. Saat bunyi bel telah berbunyi
tanda pelajaran hari ini sudah selesai. Seluruh siswa keluar dari kelasnya,
ketika aku, Lala, dan Leni adik ku keluar dari sekolah. Tiba – tiba hati ku ini
dek – dekan aku tidak tahu apa yang aku rasakan saat ini dan apa yang akan
terjadi pada diriku…Tanya ku dalam hati.
Saat dijalan Lala terus menggoda
aku, Leni juga ikut – ikutan menggoda aku, ini semua gara – gara mulut Lala
yang ember.
Dan dijalan saat menuju kerumah aku
melihat Doni dia tersenyum kepadaku sambil ia di boncengin oleh temanya Dwi
namanya aku senang sekali saat Doni senyum kepada kami. Mungkin inilah rasanya
rasa suka pada dirinya, senyuman manis Doni membuat aku dak – dik – duk memulu.
Lala tambah menggoda aku sambil tertawa rasanya aku ingin banget menendang Lala
sampai ujung bumi, tapi suka juga rasanya.
Sampai dirumah aku langsung masuk
kamar, menaruh tas dan menaruh sepatu dirak sepatu, aku langsung merebahkan
tubuhku di tempat tidur, lalu tiba – tiba terdengar Handphone ku berbunyi
ternyata ada pesan dari Doni dia menanyakan bahwa aku sudah sampai dirumah atau
belum. Lalu aku membalas pesannya. Waktu aku mengambil air minum terdengar
Handphone ku berbunyi aku langsung cepat – cepat lari menuju kamar ku ternyata
Doni menelfon ku. Aku menjadi gugup waktu mengangkat telfonnya lalu aku angkat,
dia mengucapkan selamat siang kepada ku lalu dia bertanya “sudah makan apa belum
kamu sika? Rasanya senang sekali aku ditanya seperti itu kamipun mengobrol
panjang lebar walaupun tidak secara langsung. Corenya dia mengirimkan ku pesan
pendek.
“Core!!! Gie apa nih?”
‘Udah sholat magrib apa belum sis?”
‘Aku tersenyum bahkan sampai tertawa’
“Gie istirahat nih.. udah donk!’
Malamnya aku menunggu sms dari Doni,
Handphone slalu ku bawa kemana – mana sampai – sampai Leni meminjam Handphone
ku saja aku tidak boleh karena aku ingin segera mendapatkan pesan dari dia
sampai belajar pun aku tidak bisa focus, selalu saja memikirkan Doni.
Dan paginya berangkat sekolah, tapi
kali ini aku berangkat jalan kaki tanpa Leni adik ku, dan ditengah jalan aku
bertemu Lala dan dia juga lagi jalan kaki menuju sekolahan.
“Hai La…!” Sapa ku.
“Hai.. “ terlihat senyum dari bibir
Lala,
“Kok tumben banget sih kamu jalan kaki,
emangnya Ayah kamu kemana, kok gak nganterin kamu sis?’ Tanya Lala.
“Ayah ku gak kemana seperti biasanya
dia pergi kekantor” Jawabku.
“Kok tumben amat kamu jalan kaki”
lagi marahan ya sama Ayah kamu tanya Lala lagi kepadaku.
“Ngak kok aku Cuma ingin jalan kaki
aja”
Di sepanjang perjalanan kami hanya
diam tidak ada satu katapun yang terlontar dari mulut kami. Tetapi tiba – tiba
Lala bertanya kepada Siska.
“Kamu ini kenapa sih, dari tadi kok
diam mulu dan kayaknya kamu lagi kesel sama seseorang”
“Aku hanya diam saja”
“Kamu marah ya sama aku?”
“Ngak kok, aku gak marah sama kamu
jawab ku”
Tidak lama kemudian kami tiba di
sekolah. Dan disaat jam istirahat aku dan teman sekelasku pergi kekantin
sekolah untuk mengisi perut kita yang keroncongan. Saat aku makan aku melihat
Doni sedang makan sama teman – temanya tapi kali ini aku tidak melihat Rita ada
disampingnya biasanya mereka selalu makan bersama – sama.
Sepulang sekolah aku menanyakan ini
kepada Lala, mungkin dia tahu tentang Rita sama Doni, karena Rita teman
sekelasnya Lala.
“La.. aku mau tanya dech sama kamu?”
“Tanya apa sih Sis, kayaknya serius banget
dech?”
“Aku kok tadi waktu dikantin sekolah
gak lihat Rita bersama Doni sih, biasanya meraka selalu bersama kalau pergi ke
kantin?’
“Kamu gak tahu ya?’ Aku tidak
menjawab, aku hanya menatap Lala heran, apa maksud dari perkataan Lala.
“Dia kan sudah putus 2 hari yang
lalu, masak kamu gak tau sih?” Aku hanya menggelangkan kepala.
“Emangnya Doni gak cerita apa sama
kamu?”
“Enggak.. akhir – akhir ini dia
jarang berbicara dengan ku dan dia juga jarang menghubungiku”
“Apa gara – gara dia putus sama
Rita, terus patah hati dech”
“Gak mungkin orang yang mutusin aja
Doni kok, tadi aja Rita nangis dikelas gara – gara diputus sama Doni kata Lala”
Ternyata dia pangjang umur juga,
tadi singan habis ngomongin dia, malamnya dia menghubungiku… seperti biasanya. Setiap
hari dia menghubungiku, sampai – sampai aku mengabaikan tugas yang diberi oleh
bapak dan ibu guru. Dan tepat sekali pukul 22.30 dia menelfon ku, saat itu aku
berniat untuk pergi tidur tetapi tiba – tiba Handphone ku berbunyi lalu aku
mengangkatnya.
“Hallo…”
“Dia menjawab “Hallo” udah tidur ya?”
“Aku menjawab belum nih, emangnya
kenapa?” Tanya ku.
“Gak kenapa – kenapa kok, aku ganggu
kamu gak?”
“Ah gak kok?”
Beberapa menit kami diam tidak terdengar suara
dari mulutnya
“Sis, aku boleh tanya gak?”
“Tanya apa” Jawab ku!
“Kamu udah punya pacar apa belum?”
Mendengar pertanyaan dari Doni,
rasanya aku baru terjun dari gunung tertinggi di dunia lalu jatuh di tanah yang
sangat empuk seperti kasur tempat tidurku.
“Lalu aku menjawab” belum emangnya
kenapa”
Dan saat itulah aku dan dia resmi menjadi
pacar, dia menyatakan perasaan cintanya kepada ku. Aku malam ini tidak bisa
tidur, terbayang selalu wajah Doni yang manis seperti gula jawa. Dan paginya
dia mengirimkan ku ucapan selamat pagi, saat dia sms, aku belum bangun, baru
pukul 04.30 pagi, orang aku bangunnya aja 05.30.
Aku sempet – sempetin untuk membuka pesan dari dia, aku memaksa kedua
mataku untuk melihat. Pagi ini aku sangat ngantuk banget karena tadi malam aku
tiduran larut sampai jam 24.22 baru tidur. Dia mengulangi ucapan tadi malam bahwa
dia mencintai aku “duh.. senang dech rasanya mendapatkan kata – kata seperti
itu, maklum lah dia adalah cinta pertama ku, Dia juga menuliskan di pesannya
bahwa
“Dia gak mau kehilangan ku untuk
selamanya karma dia sangat menyayangi ku”
“Lalu aku membalas pesanya’
“Aku juga sangat menyayangimu”
Sejak jadian sama Dini aku merasakan
perubahan yang luar biasa, awalnya aku mengerjakan selalu ogah – ogahan hampir
setiap hari Ibu selalu marah – marah. Dan sekarang sholat ku menjadi tertib,
berkat dia yang selalu mengingatkan ku. Tapi disatu sisi dia yang selalu
mengingatkan ku. Tapi disatu sisi dia juga merubahku jadi malas belajar. Karma
aku jarang sekali belajar nilai ulangan semesteranku menurun biasanya aku
selalu mendapat tiga besar tapi semester ini lima besar pun aku tidak termasuk.
Kecewa rasanya, sampai – sampai Ibu uring – uringan karma nilai ku menurun.
“Siska, Siska kenapa sekarang nilai
kamu menjadi angjlok sih”
“Apa yang membuat kamu seperti ini?”
Aku hanya diam saja mendengar Ibu marah – marah.
“Pokoknya Ibu gak mau tahu semester
yang akan datang kamu harus masuk dalam peringkat tiga besar!”
“Iya bu!” Jawab ku
“Jangan hanya iya saja, tetapi
buktikan”!
Lalu Ibu pergi kedapur mengambil air
minum kehausan habis ngomel – ngomel. Lalu aku masuk kamar, aku sangat menyesal
sudah membuat kedua orang tua ku kecewa kepada lebih – lebih Ibu 2 bulan sudah
aku dan Doni berpacaran tapi akhir – akhir ini Doni tidak lagi menghubungiku,
entah kenapa aku tidak tau apa yang sebernarnya terjadi pada dia. Nomor hanpdphonenya
aku hubungi selalu gak bisa, aku mengirimkan beribu – ribu pesan selalu gagal,
dan disekolahpun dia jarang sekali terlihat, dia selalu menghindar kalau aku mau
menanyakan kenapa dia tidak pernah menghubungiku.
Siang, setelah sekolah aku mengajak
untuk menemani aku bertemu dengan Doni, tapi apa yang aku dapat, aku tanya
kepadanya tapi beribu – ribu pertanyaan satupun tidak dijawab. Dia hanya diam,
aku kesal banget sama dia, lalu aku pergi meninggalkan dia, Lala mengejarku,
lalu bertanya kepadaku.
“Sis sebenarnya apa sih yang terjadi
antara kamu dengan Doni?”
“Aku juga tidak tahu La…, akhir –
akhir ini ia tidak lagi menghubungiku”
Jawabku.
“Emangnya ada masalah apa, sampai – sampai ia
tidak menghubungi kamu?” Tanya Lala lagi.
“Aku tidak tahu La…., setiap aku mau
menanyakan hal itu dia selalu menghindar”
“Sabar saja ya Sis, moga – moga Doni
sadar apa yang sudah dia lakukan, sampai – sampai membuat kamu gelisah dan
sedih!”
“Aku hanya mengangguk”
Sampai dirumah aku langsung kekamar,
aku mengunci pintu kamarku agar tidak ada yang mengganggu, sejak pulang sekolah
samapi sore ini aku tidak berhenti menangis, di dalam hatiku terdapat beribu –
ribu pertanyaan untuk dia, apa salahku ? mengapa dia lakukan ini kepadaku ?
mengapa sekarang berubah tidak seperti dahulu, aku merindukan kenangan masa –
masa kita dulu, kamu selalu perhatian sama aku. Dan kala itu aku ditanyai
temannya Doni, Andi namanya. Saat aku pergi keperpustakaan, aku dipanggil Andi.
“Sis …. Panggil Andi”
“Aku menoleh kearah Andi, lalu Andi
menghampiriku”
“Ada apa An?”
“Aku Cuma mau tanya, kenapa Doni
sekarang berubah arastis seperti itu, bukan apa – apa sich Sis, aku sebagai
teman baiknya hanya ingin tahu”
“Aku juga tidak tau An, apa yang
terjadi kepadanya”. Jawabku.
“Lho kok kamu bisa tidak tau sich,
kamu kan pacarnya”
“Emang benar sih, tapi dia sekarang
tidak pernah menghubungiku lagi, entah kenapa”
“Ya sabarlah Sis”
“Aku hanya tersenyum kepada Andi”
Sudah 35 hari status ku dengan dia tidak
tentu, sakit sekali rasanya, apa sekarang dekat dengan Jihan adik kelas ku, Aku
diberi tahu Lala bahwa mereka sudah jadian. Aku menangis mendengar apa yang
disampaikan Lala kepada ku, sungguh teganya dia seperti itu kepadaku. Padahal
selama ini aku selalu menjaga hatiku untuk dia sudah sekian lama aku mencoba
untuk melupakannya dan perlahan – lahan aku bisa melupakanya. Tapi sebenernya
di lubuk hatiku yang paling dalam masih menyayanginya.
Dan sekarang bisa melihat Doni di
kantin walaupun di temani dengan seorang cewek yang berbeda sebelum aku jadian
sama Doni. Satu hal yang aku tahu tentang Doni, ternyata dia seorang Playboy,
kalau dilihat sih dia itu orang yang pendiam tetapi dia senang sekali
mempermainkan perasaan seorang wanita, sungguh tak ku sangka dia seperi itu.
Sore nanti aku di ajak Lala untuk jalan
– jalan ke taman menggunakan sepeda ontel lama sekali rasanya aku sudah tidak
jalan – jalan ke taman sambil bersepeda dengan teman kecil ku yaitu Lala saat
kita asiknya bersepeda sambil mengobrol mata ku terkejut pada seorang laki –
laki yang duduk ditaman seorang diri yaitu Doni aku rasa Doni juga melihat aku,
aku langsung mengajak Lala untuk segera pulang
“La.. ayo kita pulang!” Ajak ku.
“Duh, bentar lagi donk Sis, kita kan
belum sampai di tempat favorit kita dulu waktu kecil”
“Besok aja dech, bujuk ku kepada
Lala”
“Kenapa sih kok tiba – tiba kamu
ngajak pulang?” Tanya Lala udah dech, nanti aku jelasin kalau udah sampai
dirumah, ayo cepat kita pulang, desak ku.
Sampai rumah, Lala menanyakan, kenapa aku tiba
– tiba mengajak pulang. Lalu menceritakan semua kalau tadi di gerbang,
terdengar ada yang memanggil nama ku, setelah aku lihat ternyata itu Doni, aku
tidak menghiraukannya. Aku dan Lala terus berjalan Doni berlari mengejar aku
dan Lala.
“Siska.. dia memanggil nama ku lagi”
“Ada apa Don, tanya ku”
“Aku mau ngomong sama kamu sebentar!”
Jawab Doni aku melihat Lala dengan heran, apa yang akan di omongin sama Doni
kepada ku.
“Ngomong aja” perintah ku, tapi aku
ingin kita ngomongnya berdua saja.
“ya sudah aku pergi dech” sahut Lala.
Lala pun pergi meninggalkan aku dan
Doni, tapi aku menyuruh Lala untuk menunggu ku di bawah pohon beringin di
samping pintu gerbang.
“Lala aku meneruskan pertanyaan ku
kepada Doni”
“Ada apa Don, tumben kamu menemuiku?”
“Aku hanya ingin minta maaf atas
semua kesalahan ku sama kamu yang telah membuat kamu kecewa” Pinta Doni.
“Iya.. aku maafin, lagi pula aku
sudah melupakan itu semua” Jawab ku kepada Doni.
“Kalau begitu kamu maukan balikan
sama aku?” Aku kaget dan heran, kenapa orang ini tidak tau malu sih, sudah
menjilat ludahnya sendiri.
“aku hanya diam saja
“aku tahu bahwa kamu masih
menyayangi ku, iya kan Sis, tanya Doni.
“Kalau boleh jujur, aku masih menyayangi mu sampai saat ini, jujur aku
tidak bisa melupakan mu, karma kamu adalah cinta pertama ku. Tapi maaf aku
tidak bisa menerima tawaran mu” Jawab ku
“Tapi kenapa, katanya kamu masih
menyayangi ku? Tanya Doni.
“Memang, tapi aku lebih suka dan
bahagia bila bisa melewati hari – hari tanpa seorang pacar”
“Ya… sudah aku mau pulang dulu..
pamit ku”
Lalu aku menghampiri Lala, aku
mengajak pulang lalu aku menceritakan semua sama Lala, bawa Doni menginginkan
ku balikan sama dia.SLalu Lala bertanya terus kamu menjawab apa? Aku lebih suka
menghabiskan waktu ku dengan keluarga dan teman – temanku dan aku mengatakan
kepada Lala bahwa cinta itu mendatangkan penyakit hati.
Karna I am single and very happy.
![]() |








0 komentar:
Posting Komentar