Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Senin, 05 Desember 2011

Kisah Dalam Hujan


Kisah Dalam Hujan

Hujan deras yang mengguyur baru saja reda. Halaman depan rumah basah. Dengan sigap, Tia berlari keluar halaman menuju jalan sambil berjingkat-jingkat mencari bagian yang tidak terlalu becek.
Dia berhenti di trotoar, dilihatnya jam tangan “ Huth....o!” Tia mendesah panjang. Jam setengah delapan, tapi dia belum tiba di sekolah. Dengan malas ia melangkah ke gedung sekolah yang berjarak 2 kilometer dari rumahnya.
“ Gara-gara hujan ! kalau telat biar telat, biar aja sekalian “ gerutu Tia.
“ Tia !” panggil mbok Anah yang bersepeda “ onthel” dari belakang.
“ Eh, mbok “
“ Ayo naik ! biar mbok Anah yang boncengin “
Perempuan setengah baya itu turun dari sepedanya, lalu menuntunnya di samping Tia.
“ Ngak usah mbok, Tia jalan saja.”
“ Sudah jam segini lho ! ayo naik !” penjaga kantin di sekolah Tia itu menaiki sepeda tuanya.
“ Biar Tia saja yang boncengin “
“ Kamu kan nggak bisa pake sepeda kayak gini nduk !”
Tia meringis “ berat lho mbok !”
“ Udah ayo naik ! mbok sudah terbiasa bocengin barang berat. Lagian nanti jalannya turun “
Tia manut saja. Habis waktunya “ mepet” banget sich!
“ Maaf pak ! tadi kn memang hujan “
“ Tapi kenyataannya teman-teman kamu tidak terlambat !” bentak pak Marto, kumisnya yang lebat bergerak turun naik.
“ Maaf pak, payungnya keduluan kakak saya,yang satu dipinjam tetangga, jas hujan nggak tau ada dimana. Ayah yang biasa mengantar sakit, sepeda motor diservice, sedang ibunda saya nggak bisa nyetir mobil,jadi...”
“Ya sudah, sudah ! saya maklum, sana duduk !”
Tia menangis “ makasih pak !” lalu mundur ke bangkunya.
“ Iya, sama-sama.” Makasih pak !” pak Marto mengambil kapur sambil menggeleng-geleng kepala.
“ Dasar ! ada-ada saja. Untung waktu saya masih muda tidak seaneh itu ! ayo lanjutkan rumus-rumus fisika.
Kantin ramai, Tia membawa semangkok soto dan segelas Es Teh, lantas mencari-cari tempat kosong.
“ Tiaaa!” Salma melambaikan tangan tak jauh darinya. Disana ada Muti, Fitri dan Pipit selain Salma. Dan tentu saja ada bangku kosong diantara mereka.
Segera saja Tia menyambut teman-temannya, tapi baru empat langkah .....
BRUUUK! PYAAARR!!!
“ Aw panas !” Tia mengibas-kibaskan bajunya, dia belepotan nasi soto. Riris anak  mbok Anah yang lebih tua delapan tahun darinya juga melakukan hal yang sama.
“ Tia, maaf ya ?” Riris membantu membersihkan nasi soto yang menempel ditubuh Tia, padahal Riris sendiri juga belepotan.
“ Nggak apa-apa, mbak Tia yang salah “
Serentak mereka menjadi tontonan anak-anak di kantin.
“ Aduh, ya ! baju kamu kotor begini , gimana mau sekolah ?”
Tiba-tiba Salma nongol di belakang Tia.
Riris menatap Tia dengan rasa menyesal, “ pasti gara-gara mbak ya ?”
“ Oh..bukan, Tia yang salah mabk !” dilemparkannya senyum manis ke arah Riris.
“ Tapi baju kamu ?”
“ Baju mbak Riris juga kotor !”
“ Itu lain, Mbkak Cuma pegawai kantin, bisa ganti baju. Sedangkan kamu, pasti gara-gara m.....
“ Enggak, enggak kok ! Tia bisa ijin pulang “
Dengan cepat Tia memotong kalimatnya.
“ Punya seragam dua di rumah ?” tanya Riris.
Tia menggeleng.
“ Kalau begitu pakai punyaku saja. Kebetulan seragam SMP-ku masih disimpan dirumah, ayo !” Riris menarik tangan Tia kebelakanga sekolah.
Rumah mbok Anak dan Riris memang dibelakang sekolah. Sejak dua tahun yang lalu, mereka bekerja sebagai penjaga kantin mmebantu mbok nganti yang kerja duluan. Saat itu mereka masih tinggal disebuah kontrakan yang murah. Tapi karena diusir oleh pemilik kontrakan 5 bulan yang lalu, dengan alasan tidak mampu mmebayar kontrakan, pak kepala sekolah mengijinkan mereka tinggal dilahan kosong belakang bangunan.
Tia menatap ke seluruh sudut ruangan sempit, dindingnya terbuat dari papan dan “ gedheg” lantainya dari tanah, tak ada perabotan indah ataupun mahal, yang ada hanya bebrapa perabotan kayu yang sudah tua, sederhana sekali...
“ kenapa ya ? rumah mbak jelek ?” Riris tersenyum melihat reaksi Tia.
Tia tergagap, “ Eh, enggak kok mbak! Anu...Cuma ....” Tia terhenti bicara, nggak tau mau ngomong apa.
Riris tertawa kecil sambil mmeilih baju-baju lama yang bertumpuk dikardus pojok ruangan.
“ Beginilah keadaan mbak, tapi mbak tetap bersyukur masih diberi hidup seperti ini, sedangkan diluar sana masih banyak yang lebih parah “
“ Mbkak Riris pasti juga beruntung punya ibu sebaik mbok Anah. Padahal diluar sana banyak yang membuang bayinya, kejam ya mbak ?”
Riris tertegun mendengar kalimat tadi
“ Mbak Riris...?” Tia menggoyang-goyangkan bahunya.
“ Eh, ya?” Riris tergagap.
“ Ibu seperti itu tidak pantas disebut ibu. Hewan saja mengasihi anaknya, kenapa manusia malah membunuh anaknya?”
Riris tersenyum, “ kalau demi kebaikan ?”
“ Kebaikan bagaimana? Kalau seperti itu apa yang akan ia katakan setelah menghadap Tuhan ?”
Riris menoleh, menatap Tia “ kau tahu mengapa mbak Riris mengatakannya sebuah kebaikan ?”
Tia menggeleng, diluar gerimis mulai turun.
Riris memegang tanganyya “ dahulua ada sebuah kisah ...”
Hening .
“ Hiduplah seorang ibu bersama anak perempuannya yang berusia delapan tahun, mereka ditelantarkan oleh sang ayah yang sudah beristri lagi, padahal ibu itu sedang hamil anak kedua ....”
Diam sejenak, “ Hn...!” Riris menghela nafas.
“ Lalu ?” Tia mendesak
“ Karena mereka berdua miskin dan merasa tak mampu, setelah bayi itu lahir, dengan terpaksa di tengah hujan lebat mendekati subuh, ibu itu meletakan bayinya didepan rumah sebuah pintu rumah, dengan harapan supaya ditemukan orang yang mampu merawatnya “
Sepi, hanya terdengar gemerisik hujan.
“ Kasihan sekali....” gumam Tia.
“ Apa pendapatmu,ya?” tanya RIRIS.
Tia berfikir sejenak “ seharusnya ibu itu tidak membuang bayinya, rezeki setiap manusia kan sudah diatur oleh Tuhannya. Kenap ibu itu percaya kepada rezki dari Allah?”
Riris tersenyum, “ Begitu ya...?
Dari balik luar pintu, mata mbok Anah basah, bukan karena air hujan, tapi karena air mata.
Sejak istirahat kedua tadi, hujan belum berhenti. Anak-anak masih disekolah, padahal bel pulang sekolah sudah berbunyi, apa boleh buat, hujan mengurung mereka disana.  Tapi ada juga yang tetap nekat menerobos hujan. Satu persatu anak-anak mulai berkurang.
Mbok Anah menuntun sepeda ‘onthel’ dari halaman parkir. Tubuhnya dilindungi mantol plastik murahan warna biru bening.” Tia!” panggilnya.
Tia menoleh.
Hujan semkain lebat, keduanya meluncur disela-sela air yang tercurah dari langit. Di depan ada tanjakan, jalannya naik. Mbok Anak mengayuh sambil berdiri, nfasnya turun naik.
“ Mbok...?” panggil Tia “ sebaiknya Tia turun disini “ mbok Anak terus mengayuh.
“ Mbok pasti lelah. Tadi sih, maksa Tia naik terus ke boncengin sama mbok. Tia turun disini saja, mbok.”
Mbok Anah terpaksa turun, nafasnya memburu, sesak. Kalau saja ia masih kuat, mungkin masih bisa mengantar Tia sampai rumah. Tanda lahir berbentuk lingkaran kecil di jari kelingking Tialah yang membuatnya ingin terus mengayuh.
“ Maaf ya, Tia? Mbok nggak bisa mengantar sampai rumah.”
“ Sebenarnya Tia yang bilang maaf, karena sudah ngrepotin. Makasih ya mbok..?”
“ Ya” nafas wanita itu masih turun naik.
Hujan deras turun menyiram bumi.
“ Mbok? Mbok nggak pa pa ?” tanya Tia.
“ Pulanglah nduk ! nanti masuk angin “
“ Tapi mbok yakin nggak apa-apa?”
“ Iya, sana pulang !”
Sebenarnya Tia merasa tidak enak untuk meninggalkannya. “ hati-hati mbok. Assalamu’alaikum
“ Walaikumsalam....!” dia memperhatikan Tia hingga menghilang disana, lalu ia berbalik dan kembali pulang karena putrinya yang satu lagi sedang menanti dibelakang sekolah.
Tapi mendadak pandangannya kabur, tubuhnya lemas dan ....
“ Assalamu’alaikum !” seru Tia.
“ Walaikumsalam,” bunda yang sedang mengangkat kardus serentak memicingkan mata “ Itu baju kami, ya? Kok lusuh?”
Tia mmeperhatikan bajunya. “ oh, ini baju mbak Riris, tadi baji Tia ketumpahan soto” jawabnya “ bunda sedang apa ?”
“ ini lho, mindahin koran-koran bekas, atap gudang bocor, jadi biar nggak basah.”
“ Oh....” Tia manggut-manggut.
Tiba-tiba ayah memanggil.
“ Bentar ya, ya? Dari kemarin flu ayah nggak sembuh-sembuh” bergegas bunda meletakan kardus dan berlari kelantai atas. Tapi kemudian berhenti di tengah-tengah tangga dan melongok ke arahnya,” jangan lupa ganti baju. Nanti masuk angin kayak ayahmu”
“ Iya bunda !” sahut Tia.
Hm...hujan lagi, hujan lagi ! hampir setiap hari hujan. Biasanya kalau musim begini, penyakit fli paling tenar-tenarnya!
Tia melirik kardus yang tadi sempat diangkat bunda. Dengan iseng gadis itu mmebukanya. O....ternyata tumpukan koran-koran lama yang kertasnya sudah menguning.
Diambilnya satu koran paling atas “ ini sih koran empat belas tahun yang lalu” gumamnya. Lama ia membolak-balik koran-koran itu.
Tiba-tiba matanya menangkap sebuah kalimat menarik bercetak tebal di pojok kiri bawah “ PARCEL BAYI”
Tia mengerutkan kening,” parcel bayi?” dibacanya koran itu, matanya sedikit melebr di bebrapa paragraf.
Harry Prasono (30) sempat kaget ketika istrinya, Linda Prasono (29) menunjukan bayi perempuan mungil yang ditemukan di depan pintu rumahnya saat subuh (5/11) sekitar pukul 05.12 WIB kemarin.
Tia diam terpaku, itu nama ayah dan bundanya, matanya kembali menekuni deretan huruf-huruf yang sudah mulai pudar.
“ Dia cantik dan lucu: kata harry ketiks ia juga mengatakan bawah ada sebuah surat yang diletakkan di dalam kardus bersama bayi itu, kemungkinan dari orang tuannya. Dijelaskan dalam surat tersebut bahwa bayi itu bernama Sabrina Tia Rainahani. Si ibu meminta tolong kepada keluarganya untuk merawat bayinya seperti anak sendiri. Sebelumnya Harry sudah mmepunyai seorang anak perempuan Runa Prasono Putri (3).
Sampai disini dad Tia berdebar gemuruh. “ Tidak,dikoran ini namanya sabrina Tia Rainahani. Tapi aku kan Tia Prasono Putri “ batinnya menenangkan diri.
“ Tapi...
Bayangan semua kejadian itu...Harry Prasono, Linda Prasono, mereka semua ayah dan bundanya. Lalu Runa, kebaikan mbok Anah, dan cerita Riris...semua berkumpul menjadi satu, kemungkinan, Tia adalah bayi buangan itu ! dan mbok Anah..ibunya !!
Dengan perasaan gemuruh, Tia berlari keluar menyusul mbok Anah. Sedangkan dijalan menurun itu, tubuh mbok Anah tergeletak tak sadar, di bawah lebatnya hujan....



0 komentar:

Posting Komentar