Kisah Dalam
Hujan

Hujan
deras yang mengguyur baru saja reda. Halaman depan rumah basah. Dengan sigap,
Tia berlari keluar halaman menuju jalan sambil berjingkat-jingkat mencari
bagian yang tidak terlalu becek.
Dia
berhenti di trotoar, dilihatnya jam tangan “ Huth....o!” Tia mendesah panjang.
Jam setengah delapan, tapi dia belum tiba di sekolah. Dengan malas ia melangkah
ke gedung sekolah yang berjarak 2 kilometer dari rumahnya.
“
Gara-gara hujan ! kalau telat biar telat, biar aja sekalian “ gerutu Tia.
“ Tia
!” panggil mbok Anah yang bersepeda “ onthel” dari belakang.
“ Eh,
mbok “
“ Ayo
naik ! biar mbok Anah yang boncengin “
Perempuan
setengah baya itu turun dari sepedanya, lalu menuntunnya di samping Tia.
“ Ngak
usah mbok, Tia jalan saja.”
“ Sudah
jam segini lho ! ayo naik !” penjaga kantin di sekolah Tia itu menaiki sepeda
tuanya.
“ Biar
Tia saja yang boncengin “
“ Kamu
kan nggak bisa pake sepeda kayak gini nduk !”
Tia
meringis “ berat lho mbok !”
“ Udah
ayo naik ! mbok sudah terbiasa bocengin barang berat. Lagian nanti jalannya
turun “
Tia
manut saja. Habis waktunya “ mepet” banget sich!
“ Maaf
pak ! tadi kn memang hujan “
“ Tapi
kenyataannya teman-teman kamu tidak terlambat !” bentak pak Marto, kumisnya
yang lebat bergerak turun naik.
“ Maaf
pak, payungnya keduluan kakak saya,yang satu dipinjam tetangga, jas hujan nggak
tau ada dimana. Ayah yang biasa mengantar sakit, sepeda motor diservice, sedang
ibunda saya nggak bisa nyetir mobil,jadi...”
“Ya
sudah, sudah ! saya maklum, sana duduk !”
Tia
menangis “ makasih pak !” lalu mundur ke bangkunya.
“ Iya,
sama-sama.” Makasih pak !” pak Marto mengambil kapur sambil menggeleng-geleng
kepala.
“ Dasar ! ada-ada saja. Untung
waktu saya masih muda tidak seaneh itu ! ayo lanjutkan rumus-rumus fisika.
Kantin ramai, Tia membawa
semangkok soto dan segelas Es Teh, lantas mencari-cari tempat kosong.
“
Tiaaa!” Salma melambaikan tangan tak jauh darinya. Disana ada Muti, Fitri dan
Pipit selain Salma. Dan tentu saja ada bangku kosong diantara mereka.
Segera
saja Tia menyambut teman-temannya, tapi baru empat langkah .....
BRUUUK!
PYAAARR!!!
“ Aw
panas !” Tia mengibas-kibaskan bajunya, dia belepotan nasi soto. Riris
anak mbok Anah yang lebih tua delapan
tahun darinya juga melakukan hal yang sama.
“ Tia,
maaf ya ?” Riris membantu membersihkan nasi soto yang menempel ditubuh Tia,
padahal Riris sendiri juga belepotan.
“ Nggak
apa-apa, mbak Tia yang salah “
Serentak
mereka menjadi tontonan anak-anak di kantin.
“ Aduh,
ya ! baju kamu kotor begini , gimana mau sekolah ?”
Tiba-tiba
Salma nongol di belakang Tia.
Riris
menatap Tia dengan rasa menyesal, “ pasti gara-gara mbak ya ?”
“
Oh..bukan, Tia yang salah mabk !” dilemparkannya senyum manis ke arah Riris.
“ Tapi
baju kamu ?”
“ Baju
mbak Riris juga kotor !”
“ Itu
lain, Mbkak Cuma pegawai kantin, bisa ganti baju. Sedangkan kamu, pasti
gara-gara m.....
“
Enggak, enggak kok ! Tia bisa ijin pulang “
Dengan
cepat Tia memotong kalimatnya.
“ Punya
seragam dua di rumah ?” tanya Riris.
Tia
menggeleng.
“ Kalau
begitu pakai punyaku saja. Kebetulan seragam SMP-ku masih disimpan dirumah, ayo
!” Riris menarik tangan Tia kebelakanga sekolah.
Rumah
mbok Anak dan Riris memang dibelakang sekolah. Sejak dua tahun yang lalu,
mereka bekerja sebagai penjaga kantin mmebantu mbok nganti yang kerja duluan.
Saat itu mereka masih tinggal disebuah kontrakan yang murah. Tapi karena diusir
oleh pemilik kontrakan 5 bulan yang lalu, dengan alasan tidak mampu mmebayar
kontrakan, pak kepala sekolah mengijinkan mereka tinggal dilahan kosong
belakang bangunan.
Tia menatap ke seluruh sudut
ruangan sempit, dindingnya terbuat dari papan dan “ gedheg” lantainya dari
tanah, tak ada perabotan indah ataupun mahal, yang ada hanya bebrapa perabotan
kayu yang sudah tua, sederhana sekali...
“
kenapa ya ? rumah mbak jelek ?” Riris tersenyum melihat reaksi Tia.
Tia
tergagap, “ Eh, enggak kok mbak! Anu...Cuma ....” Tia terhenti bicara, nggak
tau mau ngomong apa.
Riris tertawa kecil sambil
mmeilih baju-baju lama yang bertumpuk dikardus pojok ruangan.
“
Beginilah keadaan mbak, tapi mbak tetap bersyukur masih diberi hidup seperti
ini, sedangkan diluar sana masih banyak yang lebih parah “
“ Mbkak
Riris pasti juga beruntung punya ibu sebaik mbok Anah. Padahal diluar sana
banyak yang membuang bayinya, kejam ya mbak ?”
Riris
tertegun mendengar kalimat tadi
“ Mbak
Riris...?” Tia menggoyang-goyangkan bahunya.
“ Eh,
ya?” Riris tergagap.
“ Ibu
seperti itu tidak pantas disebut ibu. Hewan saja mengasihi anaknya, kenapa
manusia malah membunuh anaknya?”
Riris
tersenyum, “ kalau demi kebaikan ?”
“
Kebaikan bagaimana? Kalau seperti itu apa yang akan ia katakan setelah
menghadap Tuhan ?”
Riris
menoleh, menatap Tia “ kau tahu mengapa mbak Riris mengatakannya sebuah
kebaikan ?”
Tia
menggeleng, diluar gerimis mulai turun.
Riris
memegang tanganyya “ dahulua ada sebuah kisah ...”
Hening
.
“
Hiduplah seorang ibu bersama anak perempuannya yang berusia delapan tahun,
mereka ditelantarkan oleh sang ayah yang sudah beristri lagi, padahal ibu itu
sedang hamil anak kedua ....”
Diam
sejenak, “ Hn...!” Riris menghela nafas.
“ Lalu
?” Tia mendesak
“
Karena mereka berdua miskin dan merasa tak mampu, setelah bayi itu lahir,
dengan terpaksa di tengah hujan lebat mendekati subuh, ibu itu meletakan
bayinya didepan rumah sebuah pintu rumah, dengan harapan supaya ditemukan orang
yang mampu merawatnya “
Sepi, hanya terdengar gemerisik
hujan.
“
Kasihan sekali....” gumam Tia.
“ Apa
pendapatmu,ya?” tanya RIRIS.
Tia
berfikir sejenak “ seharusnya ibu itu tidak membuang bayinya, rezeki setiap
manusia kan sudah diatur oleh Tuhannya. Kenap ibu itu percaya kepada rezki dari
Allah?”
Riris
tersenyum, “ Begitu ya...? ”
Dari balik luar pintu, mata mbok
Anah basah, bukan karena air hujan, tapi karena air mata.
Sejak
istirahat kedua tadi, hujan belum berhenti. Anak-anak masih disekolah, padahal
bel pulang sekolah sudah berbunyi, apa boleh buat, hujan mengurung mereka
disana. Tapi ada juga yang tetap nekat
menerobos hujan. Satu persatu anak-anak mulai berkurang.
Mbok
Anah menuntun sepeda ‘onthel’ dari halaman parkir. Tubuhnya dilindungi mantol
plastik murahan warna biru bening.” Tia!” panggilnya.
Tia
menoleh.
Hujan
semkain lebat, keduanya meluncur disela-sela air yang tercurah dari langit. Di
depan ada tanjakan, jalannya naik. Mbok Anak mengayuh sambil berdiri, nfasnya
turun naik.
“
Mbok...?” panggil Tia “ sebaiknya Tia turun disini “ mbok Anak terus mengayuh.
“ Mbok
pasti lelah. Tadi sih, maksa Tia naik terus ke boncengin sama mbok. Tia turun
disini saja, mbok.”
Mbok
Anah terpaksa turun, nafasnya memburu, sesak. Kalau saja ia masih kuat, mungkin
masih bisa mengantar Tia sampai rumah. Tanda lahir berbentuk lingkaran kecil di
jari kelingking Tialah yang membuatnya ingin terus mengayuh.
“ Maaf
ya, Tia? Mbok nggak bisa mengantar sampai rumah.”
“
Sebenarnya Tia yang bilang maaf, karena sudah ngrepotin. Makasih ya mbok..?”
“ Ya” nafas
wanita itu masih turun naik.
Hujan
deras turun menyiram bumi.
“ Mbok?
Mbok nggak pa pa ?” tanya Tia.
“
Pulanglah nduk ! nanti masuk angin “
“ Tapi mbok yakin nggak apa-apa?”
“ Iya,
sana pulang !”
Sebenarnya
Tia merasa tidak enak untuk meninggalkannya. “ hati-hati mbok. Assalamu’alaikum”
“
Walaikumsalam....!” dia memperhatikan Tia hingga menghilang disana, lalu ia
berbalik dan kembali pulang karena putrinya yang satu lagi sedang menanti
dibelakang sekolah.
Tapi
mendadak pandangannya kabur, tubuhnya lemas dan ....
“
Assalamu’alaikum !” seru Tia.
“
Walaikumsalam,” bunda yang sedang mengangkat kardus serentak memicingkan mata “
Itu baju kami, ya? Kok lusuh?”
Tia
mmeperhatikan bajunya. “ oh, ini baju mbak Riris, tadi baji Tia ketumpahan
soto” jawabnya “ bunda sedang apa ?”
“ ini
lho, mindahin koran-koran bekas, atap gudang bocor, jadi biar nggak basah.”
“
Oh....” Tia manggut-manggut.
Tiba-tiba
ayah memanggil.
“
Bentar ya, ya? Dari kemarin flu ayah nggak sembuh-sembuh” bergegas bunda
meletakan kardus dan berlari kelantai atas. Tapi kemudian berhenti di
tengah-tengah tangga dan melongok ke arahnya,” jangan lupa ganti baju. Nanti
masuk angin kayak ayahmu”
“ Iya
bunda !” sahut Tia.
Hm...hujan
lagi, hujan lagi ! hampir setiap hari hujan. Biasanya kalau musim begini,
penyakit fli paling tenar-tenarnya!
Tia
melirik kardus yang tadi sempat diangkat bunda. Dengan iseng gadis itu
mmebukanya. O....ternyata tumpukan koran-koran lama yang kertasnya sudah
menguning.
Diambilnya
satu koran paling atas “ ini sih koran empat belas tahun yang lalu” gumamnya.
Lama ia membolak-balik koran-koran itu.
Tiba-tiba
matanya menangkap sebuah kalimat menarik bercetak tebal di pojok kiri bawah “
PARCEL BAYI”
Tia
mengerutkan kening,” parcel bayi?” dibacanya koran itu, matanya sedikit melebr
di bebrapa paragraf.
Harry Prasono (30) sempat kaget
ketika istrinya, Linda Prasono (29) menunjukan bayi perempuan mungil yang
ditemukan di depan pintu rumahnya saat subuh (5/11) sekitar pukul 05.12 WIB
kemarin.
Tia
diam terpaku, itu nama ayah dan bundanya, matanya kembali menekuni deretan
huruf-huruf yang sudah mulai pudar.
“ Dia cantik dan lucu: kata harry
ketiks ia juga mengatakan bawah ada sebuah surat yang diletakkan di dalam
kardus bersama bayi itu, kemungkinan dari orang tuannya. Dijelaskan dalam surat
tersebut bahwa bayi itu bernama Sabrina Tia Rainahani. Si ibu meminta tolong
kepada keluarganya untuk merawat bayinya seperti anak sendiri. Sebelumnya Harry
sudah mmepunyai seorang anak perempuan Runa Prasono Putri (3).
Sampai
disini dad Tia berdebar gemuruh. “ Tidak,dikoran ini namanya sabrina Tia
Rainahani. Tapi aku kan Tia Prasono Putri “ batinnya menenangkan diri.
“
Tapi...
Bayangan
semua kejadian itu...Harry Prasono, Linda Prasono, mereka semua ayah dan
bundanya. Lalu Runa, kebaikan mbok Anah, dan cerita Riris...semua berkumpul
menjadi satu, kemungkinan, Tia adalah bayi buangan itu ! dan mbok Anah..ibunya
!!
Dengan
perasaan gemuruh, Tia berlari keluar menyusul mbok Anah. Sedangkan dijalan
menurun itu, tubuh mbok Anah tergeletak tak sadar, di bawah lebatnya hujan....








0 komentar:
Posting Komentar