PUTUS
Karya
: Diah Utami
Selama ini Tita tinggal bersama kakek neneknya, sudah
sejak dulu Tita ditinggalkan ibunya untuk bekerja. Tetapi sampai sekarang
ibunya belum pulang. Tiba-tiba saja Kikin teman baik Tita sudah berada disisi
Tita.
“ Ada apa Tita, kamu dari tadi kok diam saja” tanya
Kikin.
“ Nggak apa-apa kok, aku Cuma lagi mikirin ibuku “
“ Memangnya ibu kamu kemana ?”
“ Ibuku sudah lama pergi bekerja, tetapi ibuku tidak
pernah memberi kabar”
“ Ya sudahlah kamu jangan sedih ,semoga saja ibumu
segera pulang “
“ Ya mudah-mudahan saja “
Tita tersenyum mendengar ucapan sahabatnya itu. Tetapi
lagi-lagi hatinya tidak bisa tenang. Kalau sampai sekarang ibunya belum pulang,
Tita putus sekolah. Soalnya selama ini yang membiayai sekolahnya adalah kakek
neneknya. Setelah Tita pulang sekolah, Tita dirumahnya bertanya pada kakek
neneknya.
“ Kek-nek, apa aku boleh melanjutkan sekolah “ tanya
Tita.
“
Uang dari mana untuk membiayai sekolahmu. Sekarang ini sekolah biayanya mahal “
“
Tapikan aku mau melajutkan sekolah,aku ingin seperti teman-temanku yang bisa
melanjutkan sekolah “
“
Iya, tapi nenek tidak punya uang, apalagi kakek kamu juga sakit. Nenek juga
masih membiayai sekolah adikmu, nenek tidak bisa kalau harus membiayai sekolah
kalian “
“
Iya seenggaknya aku bisa sekolah sampai SMP “
“
Kalau ibumu pulang, kamu bisa melanjutkan sekolah “
Tita sedih kalau ibunya tidak pulang, ia benar-benar
tidak bisa melanjutkan sekolah. Sebab melanjutkan sekolah adalah cita-cita agar
kalau dia nanti sudah bekerja ia dapat membantu membiayai sekolah adiknya. Tita
juga ingin adiknya sekolah lebih tinggi agar bisa menggapai cita-citanya dan
dapat membahagiakan kakek-neneknya.
Setelah sekian lama
Tita menunggu sampai tahun ajaran ini ibunya belum juga pulang.
Kesedihan terus melanda Tita, tetapi Tita mencoba untuk tegar. Walaupun
akhirnya ia putus sekolah, Tita bertekad agar adiknya nanti tidak seperti dia.
IBUKU PAHLAWANKU
Karya : Bayu Aditya Nugroho
Ibu adalah sosok orang yang bijaksana dalam hal apapun.
Semua orang pasti mengenal dengan nama ibu. Oh ibu, tatapan matamu bagaikan matahari
yang selalu memancarkan sinarnya, senyuman bibirmu menampakan rasa bahagia dan
senang dengan raut wajahmu yang selalu bersinar.
Oh ibu, dirimu bagaikan bumi yang berputar
menggambarkan sosok dirimu tak kenal rasa lelah dan letih, setiap hari engkau
selalu bekerja dan terus bekerja dan berkorban hanya untukku, yaitu anakmu. Oh
ibu, pengorbananmu tak akan aku sia-siakan, aku akan memanfaatkan kesempatan
ini.
Engkau sampai tak kenal waktu, hanya untukku supaya aku
bisa berpendidikan tinggi. Oh ibu, semoga engkau tak menyesal dengan hadirnya
aku ibu, aku akan membalas kebaikanmu ibu.
Oh ibu, disaat orang masih memjamkan mata dengan
tidurnya, engkau sudah terbangun dari tidurmu, sudah sibuk dengan aktivitas
pekerjaanmu, dan disaat orang sudah istirahat,engkau tidak istirahat,
sampai-sampai matahari sudah tidak memancarkan sinarnya dan berganti dengan
rembulan yang indah, engkau masih sibuk dengan pekerjaanmu, engkau sungguh
hebat ibu.disaat pagi ibu sudah siap dengan dagangan yang nanti akan dijualnya.
“ Dit, didit.”
“ Ya bu, ada apa ?”
“ Cepat bangun dan jangan lupa langsung mandi “
“ Ya, Bu “
“ Didit, apa kamu sudah habis mandi ?”
“ Ya bu,sudah. Ini lagi ganti baju “
“ Oh ya, nanti jangan lupa antarkan ibu ke sekolahan ya
?”
“
Ya, ini aku sudah selesai kok bu, memang ibu sudah siap dengan semua dagangan
ibu ?”
“
Udah “
“
Ya, ayo naik ke motor bu “
“
Terima kasih ya Dit, sudah dianterin ?”
“
Ya bu, kalau gitu aku minta uang saku bu ?”
“
Oh ya, ibu lupa,kamu minta berapa ?”
“
Terserah ibu “
“
Baik, 5.000 aja ya “
“
Ya bu, terima kasih, aku berangkat ya “ (
sambil mencium tangan ibu )
“
Iay, hati-hati Dit “
Oh ibu, engkau memang pahlawanku dan aku semakin
semangat belajar, supaya tidak mengecewakanmu ibu, dan aku berjanji akan
membalas kebaikanmu itu ibu, dengan aku belajar sungguh-sungguh.
Walaupun aku terkadang membuatmu kecewa, namun aku
selalu menerima nasehat darimu, karena nasehat yang engkau berikan itu pasti
demi kebaikanku dan aku tidak pernah menganggap bahwa nasehat yang engkau
berikan itu sebuah rasa kesalmu padaku.
Oh,ibu, aku tidak bisa jauh darimu, walau suatu hari
aku tak sabar untuk bertemu kembali denganmu. Karena aku sangat sayang padamu.
Oh ibu, aku sangat bangga denganmu dan engkau aku
anggap sebagai pahlawanku.
PERJALANAN CINTAKU
Karya : Wiwit Yuni
Setiawati
Putra adalah lelaki yang sangat aku sayangi selama ini
dan telah mengisi lubuk hatiku. Tapi perjalanan cintaku tidak berjalan lama,
karena lagi-lagi teman dekatku telah mengkhianati dan telah mengambil kekasih yang ku sayangi
dan kucintai.
Putra telah meninggalkanku demi teman dekatku yang
bernama Lia, yang aku percayai selama ini. Mereka telah jadian waktu ulang
tahun SMP lalu. Hatiku merasa sedih dan sakit hati rasanya, terluka melihat
orang yang aku sayangi selamaini telah memilih cewex lain.
Aku mencoba melupakannya, tapi rasanya tidak bisa untuk
mendapatkan seorang cowox kayak dia lagi, dimana-mana aku selalu melihat mereka
berdua, hatiku merasa tidak tenang dan aku terbayang-bayang oleh wajahnya
selama kehidupanku.
Tapi anehnya, mereka yang selalu menyakiti dan tak
peduli sama lainnya. Ira dan Putra menginginkan putus karena tidak saling
menyayangi, mereka berdua telah memutuskan untuk berpisah.
Hati masih terbayang-bayang wajahnya putra dan hidupnya
yang tidak pernah tenang kehidupannya. Wati masi menginginkan untuk menjadi
kekasihnya Putra, tapi itu adalah tidak mungkin terjadi,ku mencoba untuk
menunggu dia kembali.
Disuatu hari Wati bertemu dengan Putra, mereka
bercakap-cakap.
“ Hai apa kabar ?”
“ Baik, kalau kamu gimana “
“ Baik juga “
“ Emmmm...ngomong-ngomong akuleh tanya gak ?”
“ Boleh, tanya apa ?”
“ Gimana kamu udah punya cowox loem?”
“ Kok kamu tanya gitu, emang ada apa ?”
“ Gak ada apa cieh “
“ Kamu mau gak jadi cewex ku lagi ?”
“ Gimana ya, aku gak mau sakit hati lagi kayak dulu “
“ Aku janji nggak bakalan kayak gitu lagi ama kamu “
“ Iya-iya?”
Putra dan Wati telah membuka lembaran baru dan
menjalani kehidupan mereka berdua yang sangat menyayangi dan mencintai. Mereka
yang selalu berdua saat bahagia maupun sedih, membagi canda tawa dan tak lupa
mengucap janji sampai hembusan nafas terakhir.
Cinta Wati dan Putra telah bahagia dan sekarang
hidupnya sangat damai untuk selamanya. Wati telah menemukan kebahagiaan yang
sesungguhnya.








0 komentar:
Posting Komentar