Pages

Labels

Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Kumpulan cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kumpulan cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Desember 2011

Kenangan Terindah


Kenangan Terindah


Nana mencoba mengatur napas sambil terus memperhatikan keajaiban yang kini duduk beberapa meter di depannya itu. Dengan ragu ia melangkah dan bersiap menyapa Tio yang sudah tiga bulan ini selalu mengisi relung hatinya.

Aku yang lemah tanpamu, Aku yang rentan karena
Cinta yang tlah hilang darimu yang mampu menyanjungku
Selama mata terbuka, sampai jantung tak berdetak
Selama itu pun aku mampu tuk mengenangmu

Darimu kutemukan hidupku
Bagiku kaulah cinta sejatiku

Bila yang tertulis untukku adalah yang terbaik untukmu
Kan kujadikan kau kenangan yang terindah dalam hidupku
Namun takkan mudah bagiku meninggalkan jejak hidupku
Yang tlah terukir abadi sebagai kenangan yang terindah

"Kenangan Terindah" by SamsonS

"NANA!"
Mama menggedor pintu kamarku dengan agak kencang, mencoba mengalahkan suara musik rock yang sengaja kupasang keras-keras. Aku merengut dan membuka pintu yang terkunci.
"Kenapa, Ma?" tanyaku malas sambil menjulurkan kepala ke balik pintu.
Mama menerobos masuk dan mematikan CD-player di sudut ruangan. "Berisik amat, sih? Kuping kamu gak sakit ya?" omel mama.
Aku menekuk mukaku lebih dalam lagi. Yap, perfect! Nggak tau apa orang lagi bete berat? Ini malah ikutan diomelin, lagi! Urrggghh…

Mama mendelik melihat wajahku sambil geleng-geleng kepala. "Dari tadi Asti nelpon, tuh! Udah tujuh kali. Katanya HP kamu off yah?" mama memunguti bekas-bekas bungkus cokelat di atas meja, "Kenapa sih? Lagi berantem yah?"
Aku menghempaskan tubuh ke atas tempat tidur. "Apaan sih, Mama? Suka sok tau deh!"
Mama kembali geleng-geleng kepala. Ia duduk di sebelahku dan mengelus rambutku dengan penuh kasih. "Ya udah, kalau bete jangan kelamaan. Kamu sama Asti kan udah temenan selama tujuh tahun"
"Delapan," koreksiku cepat.
"Ya, delapan tahun kan bukan waktu yang singkat. Memangnya apa sih masalahnya?" mama masih saja berusaha mengorek info dariku. Mungkin mama lagi cari bahan gosip kalau nanti telpon-telponan dengan Tante Ria, mamanya Asti. Ya, karena aku dan Asti sudah bersahabat sekian lama, mama dan Tante Ria pun jadi ikut temenan.
Aaahh… Sudahlah, aku lagi nggak mood untuk ngebahas tentang Asti. Malas. Jadi teringat akan kejadian itu…
Aku mendengus, membuat mama kembali geleng-geleng kepala, kali ini sambil menghela napas panjang. "Ya udah, mama mau nonton TV dulu," katanya sambil beranjak, "Kamu kalau mau menyendiri dulu gak pa-pa, nanti kalau Asti telpon lagi, mama akan bilang kamu lagi tidur. Tapi inget, nyetel musiknya jangan kenceng-kenceng! Nanti mama diomelin sama tetangga."
Aku mengunci pintu segera setelah mama keluar, kemudian merebahkan diriku di atas kasur. Ternyata bete itu capek juga. Bener kata Asti, marah itu perlu banyak energi… Duh! Tuh, kan, lagi-lagi kepikiran Asti! Udah, ah, bete!

Tadi sore, di sekolah…
Nana berjalan cepat menuju kelas, mencoba mencari Asti untuk mengajaknya pulang bareng. Rumahnya dan rumah Asti yang tidak terlalu jauh jaraknya membuat mereka selalu berangkat dan pulang bareng. Itu pulalah yang menjadi awal keakraban mereka delapan tahun yang lalu, saat mereka duduk di kelas empat SD. Nana dan Asti yang sekelas tidak sengaja ketemu di halte saat sedang menunggu bus. Semenjak itulah mereka jadi sering bersama, layaknya sepasang saudara kembar, meskipun wajah mereka tak terlalu mirip. Asti lebih cantik, namun Nana lebih pandai. Itu yang membuat mereka saling mengagumi satu sama lain.
Di depan kelas, Nana terpaku. Keadaan kelas memang lengang, namun di sebuah bangku di barisan depan duduklah Tio, si anak baru pindahan dari Bandung yang keren abis itu. Ia sedang duduk santai sambil mendengarkan CD dari discman dan membaca komik Kung Fu Boy. Nana merasa kaku. Tiba-tiba saja tangan dan kakinya jadi panas dingin dan jantungnya berdegup semakin kencang.
Tio memang keren abis! Rambutnya yang ikal kecokelatan dan agak gondrong membuatnya terlihat cute. Hidungnya mancung dengan bibir yang menyunggingkan senyum. Sesekali ia membetulkan letak kacamata yang membingkai mata indah dengan alis tebalnya. Benar-benar mirip Jude Law di film Closer. Ganteng.
Nana mencoba mengatur napas sambil terus memperhatikan keajaiban yang kini duduk beberapa meter di depannya itu. Dengan ragu ia melangkah dan bersiap menyapa Tio yang sudah tiga bulan ini selalu mengisi relung hatinya.
Namun, tiba-tiba, wajah Tio terangkat dan bibirnya menyunggingkan senyum, membuat Nana terpaku di tempatnya berdiri.
"Asti…" bisik Tio.
Nana bengong. Apa Tio yang salah ngomong atau telinganya yang salah dengar ya? Tadi rasanya Tio menyebutkan nama Asti.
"Sorry?" Nana masih berdiri kebingungan.
"Asti," sekali lagi nama itu meluncur mulus dari bibir Tio. Semenjak Nana masih menatap Tio dengan bingung, sebelum akhirnya ia menyadari bahwa mata Tio tidak menatap ke arahnya. Tio menatap sesuatu, atau seseorang, di belakangnya. Spontan, Nana berbalik. Dan, ia menemukan Asti sedang berdiri mematung sambil tersenyum kikuk.
Sementara itu Tio membereskan barang-barangnya yang terserak di atas meja dan memanggul tas ranselnya ke arah Asti.
"Makasih CD-nya, ya, Non. Oya, Sabtu jadi nonton, kan?" tanya Tio.
Asti mengangguk pelan, "Insya Allah, jadi."
Tio memamerkan senyum charming-nya sebelum melangkah ke luar kelas, meninggalkan Nana dan Asti berdua.
Nana memandang Asti tak percaya. Nggak mungkin! Selama tiga bulan ini Nana rutin curhat ke Asti bahwa dirinya jatuh cinta sama Tio, tapi… barusan ia baru saja memergoki Asti memberi sebuah CD kepada Tio dan janjian nge-date berdua. Hari Sabtu, pula, which means… malem Minggu! Damn!
Asti tersenyum polos dan menggandeng tangan Nana, "Pulang sekarang, Na?"
Nana menghempaskan tangan Asti dan menampar pipinya, sebelum menjauh pergi dengan wajah merah karena menahan amarah yang memuncak di ubun-ubunnya.

Keesokan harinya.
Nana melangkah kesal ke arah kelas. Tak seperti biasanya, pagi ini ia datang pagi-pagi sekali untuk menghindari kemungkinan bertemu Asti di halte. Suasana kelas masih lengang, Nana memanfaatkan waktu yang tersisa sebelum bel sekolah berbunyi untuk menyelesaikan PR fisikanya. Tadi malam ia terlalu penat untuk bisa mengerjakan PR. Lagipula kalau toh ia berusaha untuk mengerjakan, pikirannya pasti bakal langsung melayang ke bayangan Asti dan Tio yang lagi asyik berduaan. Jadi, percuma saja!
Lagi asyik mengerjakan PR, seseorang duduk di sebelahnya.
Nana tak terlalu memperhatikan karena ia terlalu sibuk mengerjakan PR-nya sesegera mungkin. Namun sapaan itu akhirnya menarik perhatiannya.
"Na, kamu nggak bareng Asti?"
Tubuh Nana mengejang. Tio. Tio yang ganteng dan mirip Jude Law itu lagi duduk di sebelahnya! Tapi kemudian ia segera tersadar, barusan Tio menanyakan Asti. Ya, Asti, si brengsek yang suka makan temen itu, bukan dirinya.
Nana menjawab malas, "Nggak, kenapa?"
Tio menyodorkan sebuah CD, "Ini CD punya Asti, gue nitip yah!"
Nana mengerutkan kening sambil melirik CD di atas mejanya, "Damien Rice?"
Tio mengangguk dengan semangat, "Iya, hari ini Yola, cewek gue, ultah. Makanya gue pinjem CD Asti untuk ngopi track Blower's Daughter. Yola suka banget sama lagu itu."
Nana mencoba menyerap semua pernyataan barusan. Wait… a girlfriend? Tio udah punya cewek? Siapa tadi… Yola? Lalu, kemarin… bukannya Tio jelas-jelas ngajak Asti nge-date?
"Tio," Nana menahan Tio yang siap beranjak dari tempat duduknya, "Kemaren, kalau gak salah, lo ngomong soal nonton ya sama Asti?"
Tio mengangguk, "Yup. Itu loh, Sabtu ini kan anak-anak sekelas pada mau nonton bareng. Lo ikut juga kan?"
Nana hanya bisa melongo. Jadi…?!

Hari yang sama, jam istirahat.
Sebuah SMS masuk ke HP Nana.
"Na, Asti kecelakaan! Buruan ke RS. Gue tunggu! -Tiko".
Nana langsung panik. Tanpa pikir panjang ia segera mengambil tasnya di atas meja dan melesat menuju rumah sakit.

Rumah sakit.
Sebuah tetes air mata jatuh membasahi pipi yang kaku dan memutih itu. Pipi yang sama yang telah Nana tampar kemarin sore.
Nana menutup mulutnya tak percaya, mencoba menahan teriakan histerisnya.
Perlahan, ia susuri wajah yang selama delapan tahun ini telah memancarkan kehangatan, senyum yang tulus, dan tawa ceria. Kini, wajah itu terlihat dingin. Begitu… tenang.
Nana mengusap rambut panjang Asti yang indah. Terdapat segumpal darah beku di sana, di atas sebuah jahitan panjang di dahi itu, namun Nana tak peduli. Ia memeluk tubuh itu untuk terakhir kalinya dan membisikkan kata maaf dalam tangis di telinga sahabatnya yang telah pergi untuk selamanya.
Tiko sedang berjalan menuju halte saat mendengar keributan itu. Seorang anak SMA terpelanting karena tertabrak bus ketika menyebrang sambil bengong, begitu kata warga sekitar. Kepalanya menabrak keras aspal, dahinya robek, dan ia pun meninggal seketika. Seorang bapak-bapak sempat mengatakan bahwa anak itu sempat menggumamkan sebuah nama. Nana.
Nana kembali terisak. Ia keluar dari kamar yang dingin itu dan merosotkan badannya di sebuah pilar.
Sayup terdengar sebuah lagu dari sebuah kamar tak jauh dari sana.

"Bila yang tertulis untukku adalah yang terbaik untukmu
Kan kujadikan kau kenangan yang terindah dalam hidupku
Namun takkan mudah bagiku meninggalkan jejak hidupku
Yang tlah terukir abadi sebagai kenangan yang terindah…"

Nana menutup matanya rapat, mencoba menghilangkan semua perasaan bersalah yang berkecamuk di hatinya.
Nana menangis lagi, kini dalam sunyi.
Kita memang tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi.
Kini, Nana hanya bisa meratap. Sahabat terbaiknya telah pergi meninggalkannya. Namun, ia akan tetap tinggal di dalam hati Nana sebagai sebuah kenangan yang terindah…

CINTA UNTUK SAHABAT



CINTA UNTUK SAHABAT

Dipagi yang cerah tepat pukul 07.00 pagi, anak-anak SMA Tunas Bangsa sudah masuk sekolah. Pagi itu Lisa tidak masuk sekolah karena sedang sakit. Dara adalah sahabat Lisa dan kebetulan teman sebangkunya. Hari itu adalah hari spesial di SMA Tunas Bangsa, karena akan kedatangan murid baru dan dia pindahan dari Semarang.
Pada saat Dara dan teman-temannya mau ke kantin, tiba-tiba dia bertabrakan dengan seorang cowok dan itu adalah Dandi siswa baru SMA Tunas Bangsa yang berwajah tampan, pinter dan mempunyai penampilan yan oke. Dara dan teman-temannya pun terpesona melihat Dandi.
“ Maaf saya tidak sengaja” kata Dara.
“ Iya, gak papa kok, saya yang salah “ balas Dandi.
“ Oh...ya, nama kamu siapa...?” tanya Dara.
“ Saya Dandi anak baru di SMA ini “ jawab Dandi.
“ Kamu tau dimana ruang guru “ tanya Dandi.
“ Ruang guru ada dilanatai dua, mari saya antar “ ajak Dara.
Dara meninggalkan teman-temannya dan pergi mengantarkan Dandi. Mereka berjalan sambil ngobrol-ngobrol kecil dan seperti orang yang sudah lama kenal. Disitulah awal pertemuan Dara dan Dandi yang cukup singkat, tapi sangat bermakna bagi Dara.
Di hari kedua Dandi masuk sekolah ia masih menjadi idola para cewek SMA Tunas Bangsa dan dihari itu Lisa sudah masuk sekolah, padahal dia masih sakit, tapi hal itu tak menyurutkan hati Lisa untuk tidak masuk sekolah, karena dia kangen sama teman-temannya, terutama pada Dara.
Tapi ada yang beda dengan teman-temannya, mereka seperti kejatuhan bintang dari langit “ ada apa sich ini....kok smuanya kelihatan seneng banget “ tanya Lisa pada teman-temannya.
“ Ada murid baru Lis, disekolah ini. Dia cowok, ganteng, pinter lagi “ sahut Dara.
“ Masak sich, kok aku gak tau “
“ Kamu kan kemarin gak masuk, jadi kamu gak tau “
“ Ikut aku yuk “ ajak Dara.
“ Kemana ?”
“ Ke kanting “
Pada saat akan ke kantin Dandi melihat Dara dan Lisa, Dandi berteriak memanggil Lisa, tapi Lisa tidak tau siapa yang memanggilnya.
“ Hai..Dan” teriak Dara.
Lisa kaget melihat Dandi di sekolah yang sama dengannya.
“ Dandi “ sahut Lisa dengan nada kaget.
“ Kalian udah saling kenal ?” tanya Dara.
Lisa hanya termenung melihat Dandi di sekolah ini dan akhirnya mereka bertemu kembali setelah mereka berpisah selama 3 tahun, karena Lisa pindah ke Jakarta bersama orang tuanya. Sebelumnya Lisa dan Dandi tinggal di Semarang dan rumah mereka bertetanggaan, selama itu pula Dandi menyimpan perasaan kepada Lisa. Dara tambah bingung ketika Dandi dan Lisa saling bertatapan seperti ada sesuatu diantara mereka. Lisa pun segera mengajak pergi ke kelas. Sebelum Dara tau masa lalu dirinya dan Dandi dulu.
Pada saat di kelas Dara bercerita tentang Dandi dan Dara juga bilang kalau ia suka pada Dandi. Dara juga minta pada Lisa untuk mempertemukan Dara dan Dandi, karena Dara akan mencoba menyatakan cintanya pada Dandi.
Lisa tambah sedih,padahal Lisa mau bercerita kalau Dandi adalah teman masa kecil Lisa dan mereka pernah menjalin cinta. Lisa bingung di sisi satu dia masih cinta pada Dandi, tapi di sisi lain dia tak mau menyakiti sahabatnya.
Bel pulang berbunyi, saatnya murid SMA Tunas Bangsa pulang, tapi Lisa belum pulang karena dia mau mencatat tugas yang belum selesai. “ Lis ayo kita pulang “ ajak Dara.
“ Kamu duluan aja, aku masih mencatat untuk tugas besok “
“ Ya........udah kalau begitu aku pulang duluan ya “
“ ya...hati-hati lho “
Semua murid sudah tidak ada lagi, suasananya makin sepi, Lisa makin buru-buru mencatatnya, karena hari juga sudah sore, setelah Lisa selesai mencatatnya, Lisa keluar kelas dan duduk dibangku dekat jalan untuk menunggu jemputan dari orang tuanya. Dari kejauhan tampak ada seorang laki-laki yang masih memakai pakaian sekolah menghampiri dirinya.
“ Lisa sedang apa kamu disini “ sapa Dandi.
“ Aku sedang menunggu jemputan “ jawab Lisa.
“ Bolehkah aku duduk disini ?”
“ Silahkan “
“ Lis, aku rindu saat-saat dulu dimana kita selalu mungkin inilah jawaban kerinduanku, kita bisakah mengulang lagi “
“ Tidak mungkin Dan”
“ Kenapa Lis?”
Lisa menceritakan pada Dandi kalau Dara sangat mencintai Dandi dan Dara ingin menjadi kekasihnya. Dandi menolaknya, karena ia cintanya pada Lisa bukan pada Dara. Dan Dandi ingin selalu bersama Lisa untuk selamanya seperti janjinya dulu pada waktu mereka kecil.
Tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti didepan mereka dan itu adalah rang tua Lisa.
“ Lisa ayo pulang “ ajak orang tua Lisa.
“ Aku pulang dulu ya “ kata Lisa pada Dandi.
“ setelah tiba dirumah Lisa teringat kata-kata Dandi yang ingin bersamanya unutk selamanya, tapi Lisa harus berfikir dua kali, ia harus memilih cintanya atau sahabatnya.
Keesokan harinya Lisa bertemu dengan Dandi, dia minta Dandi menunggu Lisa di taman sekolah pada jam istirahat. Dandi sudah menunggu Lisa ditaman.
“ Ada apa Lis? Kenapa kita harus bertemu disini “ tanya Dandi.
“ Apa kamu yakin dengan kata-kata kamu yang kemarin “ balas Lisa.
“ Yang mana.....” tanya Dandi dengan nada bingung.
“ Kamu akan bersama aku untuk selamanya” jelas Lisa.
“ Iya Lis..., aku ingin selalu denganmu, aku akan melakukan hal apapun agar kamu selalu bahagia “
“ Benarkah..!! kalau kamu ingin  aku bahagia, kamu harus menjadi kekasihnya Dara, karena kebahagiaanku bersumber dari sahabatku “
“ Gak mungkin Lis, kalau aku dan Dara lalu kamu gimana ?”
“Kamu gak usah peduliin aku, temuilah Dara dikantin. Dia menunggu kamu disana “
Setelah Lisa mengatakan hal tersebut Dandi langung meninggalkan Lisa ditaman dan pergi menemui Dara dikantin. Setelah Dandi pergi Lisa menangis, apakah keputusan yang diambilnya sudah benar.
Seperti yang dikatakan Lisa, Dara sudah menunggu Dandi di kantin. Dandi duduk disebelah Dara, mereka ngobrol-ngobrol sambil bercanda. Tiba-tiba Dandi memegang tangan Dara dan berkata “
“ Maukah kamu jadi pacarku ?”
Dara kaget dengan ucapan Dandi, tapi dihati Dara sangat senang dan itulah kata-kata yang ditunggu selama ini.
“ Maksud kamu “ tanya Dara pura-pura tidak mengerti.
“ Aku ingin kamu menjadi pacarku, mau ya....pleace!!”
“ Baiklah aku mau jadi pacar kamu “
Lisa yang mendengarkan pembicaraan Dara dan Dandi dibalik pintu kantin, tiba-tiba mengeluarkan air mata, sebenarnya dia masih cinta pada Dandi, tapi Lisa dan Dandi tak mungkin bersatu, karena Lisa tidak mau menyakiti perasaan Dara. Karena sahabatnya adalah segalanya.
Pasca jadiannya Dandi dan Dara, Lisa selalu terpuruk dalam kesedihan. Sahabatnya pun makin lupa dan tidak ada waktu untuk Dara dan Lisa berkumpul seperti dulu lagi. Padahal Lisa yang memperjuangkan cinta Dara pada Dandi dan lisa rela hatinya sakit hanya untuk sahabatnya bisa senang. Tapi itu tidak pernah ada difikiran Dara karena ia fikir Dandi benar-benar cinta pada Dara. Hubungan mereka tambah hari tambah romantis dan Lisa pun tambah sedih.
Pada waktu Dara akan menyebrang jalan tiba-tiba dari arah yang berlawanan ada sebuah mobil yang melaju kencang, Lisa melihat kejadian tersebut, dia langsung mendorong tubuh Dara dan akhirnya Lisa yang tertabrak mobil itu. Tubuh Lisa berlumuran darah, terutama bagian kepalanya. Mobil yang menabrak Lisa langsung pergi, Dara langsung berterika minta tolong, tapi tak ada orang, lalu Dara menelpon Dandi untuk menolong Lisa. Lalu Lisa dibawa kerumah sakit agar tidak kehabisan darah. Dandi sedih melihat Lisa terbaring tak berdaya, karena sebenarnya dia masih mencintai Lisa. Sementara itu Dara merasa bersalah karena Lisa celaka gara-gara menolong Dara. Orang tua Lisa segera datang kerumah sakit untuk melihtat keadaan putri semata wayangnya. Hampir 3 jam Lisa tidak sadarkan diri, semua orang yang menunggunya khawatir.
Ketika Lisa sadar, orang pertama yang dilihat adalah dandi. Pada saat itu kebetulan Dara juga akan mejenguk Lisa., waktu Dara akan membuka pintu kamar rawatnya Lisa tanpa sengaja dia mendengar pembicaraan Lisa dan Dandi kalau sebenarnya orang yang paling dicintainya adalah Lisa. Dara tak jadi menjenguk Lisa dia langsung berlari meninggalkan rumah sakit dengan air mata yang bercucuran diwajahnya.
“ Aku tak bisa hidup tanpamu Lis...” kata Dandi.
“ Tapi bagaimana dengan Dara, aku tak mau menyakitinya “ jawab Lisa
“ Aku mencintai kamu bukan Dara “
“ Kamu harus tetap berpacaran dengan Dara “
“ Appa kamu yakin dengan hal itu, aku tidak mau kalau kamu menyesal dengan pilihanmu pada suatu hari nanti “
“ Aku yakin..!!” jawab Lisa dengan tegas.
“ Baiklah kalu begitu aku akan mennggalkanmu dan aku tetap berpacaran dengan Dar agar kamu bahagia”
Dandi langusng pergi meninggalkan Lisa dengan rasa kecewa. Setelah Dandi pergi Lisa menangis karena hatinya masih ada nama Dandi orang yang paling dia cintai.
Hari berikutnya Dandi tidak lagi menjenguk Lisa dan teman-temannya pun tak ada yang datang menjenguknya. Padahal keadaan Lisa semakin parah. Orang tua Lisa tambah sedih melihat keadaan Lisa yang semakin memburuk akibat kecelakaan itu. Pada saat dokter memeriksa Lisa, ternyata pada otak kecil Lisa mengalami pendarahan akibat benturan yang hebat.
“ Bagaimana dok, keadaan anak saya “
“ Anak ibu mengalami pendarahan di otak kecilnya dan kami dari pihak rumah sakit tidak berani mengoperasi Lisa, karena resikonya sangat berbahaya”
“ Lalu apa dok yang harus kami lakukan “
“ Kami dari pihak rumah sakit akan melakukan penangan yang lebih baik terhadap Lisa, kesembuhan Lisa kita pasrahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan ibu sekeluarga harus berdoa padanya “
“ Baik dok, kami akan berdoa demi kesembuhan Lisa “
Hari demi hari, bulan demi bulan, dilewati Lisa dengan kesendirian dan penyakit yang dideritanya akibat kecelakaan itu. Hubungan Dara dan Dandi semkain tambah mesra karena Dandi tidak mau mengingat lagi tentang Lisa. Dara juga begitu dia tidak pernah menjenguk Lisa, padahal Lisa sudah berkorban banyak demi Dara sahabat baik Lisa.
Detik-detik terakhir Lisa pun sudah terasa dihati orang tuanya, karena Lisa berpamitan seperti orang yang akan pergi untuk selamanya.
“ Bu, yah...kalau Lisa pergi nanti kalian jangan sedih dan kalian harus bisa melupakan Lisa “ kata Lisa dengan nada lemas.
“ Kamu ngomong apa sich, Lisa” tanya ibu Lisa dengan mata berkaca-kaca.
“ Lisa ingin pergi ketempat yang lebih tenang, Lisa minta tolong pada ayah dan ibu untuk memberikan Diary ini pada Dandi “
“ Memang ada apa dengan diary ini Lisa “ tanya ibu Lisa dengan rasa penasaran.
“ Diary ini sangat penting bagi Lisa dan Dand..” sebelum Lisa melanjutkan kata-katanya Lisa langsung menutupkan matanya dan nafas Lisa tiba-tiba hilang, orang tua Lisa panik dan langsung memanggil dokter untuk memeriksa Lisa. Tapi dokter menyatakan kalau Lisa sudah tidak ada lagi. Orang tua Lisa menangis histeris terutama ibunya, karena selama ini ibunylah yang paling dekat dengan Lisa.
“ Lisa....bangun nak, jangan tinggalin ibu “
“ kata-kata itulah yang disebutkan ibunya Lisa dengan histeris. Orang pertama yang diberi tau kematian Lisa adalah Dandi. Setelah mendengar berita itu Dandi langsung pergi kerumah sakit.
“ Lisa....jangan tinggalin aku, kenapa kamu pergi secepat ini “ Dandi dengan memeluk tubuh Lisa yang tak berdaya lagi.
“ Lisa menitipkan Diary ini untukmu...” kata ibu Lisa.
“ Memangnya ada apa dengan Diary ini buk ?” tanya Dandi.
“ Entahlah, ibu juga gak tau “ jawab ibu Lisa.
Ibunya Lisa langsung mmeberikan Diary itu kepada Dandi , tetapi dia tidak langsung mmebacanya, karena proses pemakaman Lisa akan segera dilakukan.
Tidak lama setelah itu jenazah Lisa dibawa pulang untuk disholatkan dan akan dimakamkan di makam dekat rumah Lisa tinggal. Semua sahabat-sahabat Lisa termasuk Dara juga hadir, Dara masih menyimpan rasa bersalah pada Lisa, karena yang seharusnya yang meninggal bukan Lisa, tetapi Dara. Di dekat makam Lisa juga berdiri orang yang ia sayangi, yaitu Dandi. Dandi juga meneteskan air mata, karena dia tidak menyangka kalau orang yang paling ia sayangi meninggalkan untuk selama-lamanya. Setelah pemakaman Lisa selesai, Dandi pulang dan ia teringat tentang Diary yang diberikan orang tua Lisa padanya. Diary itu dibaca Dandi dengan teliti halaman demi halaman dibacanya, tetapi Dandi tertuju pada sebuah halaman yang tertulis puisi yang indah dan rapi.
Dear Diary.
Aku menjadi bermakna bukan
Ketika cinta menghampiri
          Tapi aku merasa sudah bermakna
          Sejak aku berharap cinta menghampiriku
Karena apa yang lebih bermakna
Dalam hidupku selain sebuah persahabatan
          Ku rela orang yang aku cintai
          Bersama sahabatku
          Ku rela aku tak bahagia
          Demi sahabatku
Dan itu semua akan menjadi
Bunga di dalam hatiku yang bermekaran selalu

Setelah selesai mebaca diary tersebut Dandi tanpa sadar mengeluarkan air mata yang mengisyaratkan ada rasa kecewa, sedih dan bersalah dihatinya. Kecewa karena kenapa Lisa berbuat seperti itu, sedangkan dia sangat mencintai Dandi, sedih karena ia tidak dapat mempersatukan cintanya pada Lisa, bersalah karena ia tidak mampu membahagiakan Lisa dan dia tidak ada waktu detik-detik meninggalnya Lisa. Dan dia teringat masa SD dulu saat Lisa dan Dandi menulis nama dan jani mereka di tembok sekolah yang tertuliskan .
Dandi   => “ Aku percaya tak ada pertemuan yang abadi “
Lisa   => “ Begitu pula dengan perpisahan, aku percaya tidak ada perpisahan yang abadi “
***Kita akan bersatu untuk selamanya Dandi & Lisa Love Fourrever ***
Semua terjadi karena perubahan dan keadaan. Cinta Lisa yang tak bersatu dengan Dandi karena Lisa lebih memilih sahabatnya, karena sahabatnya mencintai kekasihnya. Setelah kepergian Lisa Dandi dan Dara masih merajut hubungan karena teringat akan perjuangan Lisa. Dan terucap sebuah janji yang keluar dari mulut Dandi dan Dara.
Text Box: Janji
Dandi
Kan ku jaga cinta ini
Demi kau kekasih hatiku
Text Box: Janji
Dara
Kar’na kamu kami bersatu
          Dan demi kau sahabatku
          Kan ku jaga kekasih hatimu
          Kar’na kau ku dapatkan cintaku
“ Your always in my hearrt “
Itulah jani Dara dan Dandi setelah Lisa meninggal, seperti pepatah bilang, kalau gajah mati meninggalkan gading, maka kalau menusia mati akan meninggalkan nama.

*** ÆÆÆ ***

Tak lama setelah 2 tahun Lisa meninggal, hubungan Dara dan Dandi masih harmonis, tetapi Dandi harus kembali ke Semarang karena orang tua Dandi sedang sakit parah dan dia akan melanjutkan sekolahnya di Semarang. Mungkin itu juga jalan terbaik Dandi untuk melupakan Lisa. Sebelum Dandi berangkat ke Semarang dia ingin berpamitan kepada Dara pacarnya, Dandi menyuruh Dara untuk menunggunya di taman sekolah pada waktu pulang nanti. Bel pulang berbunyi, Dara udah gak sabar ketemu dengan Dandi. Karena Dara fikir Dandi akan memberikan kejutan yang istimewa untuknya. Dara langsung cepat-cepat menuju taman tempat ketemuan mereka, Dandi sudah menunggu Dara ditaman.
“ hai...Dan, udah dari tadi ya menunggunya” sapa Dara
“ Enggak kok, aku juga baru nyampai “ jawab Dandi.
“ Ada apa sich kokkelihatannya serius banget “ tanya Dara dengan wajah penasaran.
“ Aku mau ngomng penting sama kamu “ sahut Dandi
“ Ngomong apa....??”
“ Dara....besok aku akan kembali ke Semarang “
“ Kenapa secepat itu ..? ada apa sebenarnya “
“ Orang tuaku sakit dan aku disuruh pulang secepatnya “
“ Lalu gimana dengan sekolah kamu, dan kapan kamu akan kembali “
“ Mungkin aku gak akan kembali ke Jakarta lagi dan aku akan melanjutkan sekolahku di Semarang “
“ Bagaimana dengan hubungan kita “
“ Hubungan kita akan tetap berlanjut, tetapi hanya sebagai sahabat “
“ Tapi aku sangat mencintai kamu “
“ Maafkan aku, Ra...”
Sebelum Dandi melajutkan kata-katanya dia langsung pergi meninggalkan Dara. Semua anak SMA Tunas bngsa juga sedih kalau Dandi kembali lagi ke Semarang, terutama para cewek-cewek yang kagum dengan sosok Dandi.
Hari ini hari kepergian Dandi, dara gelisah dan bingung apa dia harus menyusul Dandi ke Stasiun atau tidak karena Dandi akan berangkat pukul 10.00 nanti, sedangkan arlogi ditangan Dara sudah menujukan pukul 09.40.
“ Kenapa sich ra..? kok keliatannya gelisah banget “ tanya Fira teman sekelas Dara.
“ Aku bingung, hari ini Dandi akan pergi ke Semarang “ jawab Dara.
“ Lalu kenapa kamu masih disini, cepat temui Dandi di stasiun “ pinta Fira.
“ Tapi...??”
“ Kamu cinta kan sama Dandi, dan ini hari terakhir kamu bertemu dengannya, ini kesempatan agar Dandi yakin kalau kamu benar-benar cinta padanya “ sahut Fira.
“ Kamu benar Fir, aku akan ke Stasiun hari ini “
“ Cepat.....sebelum jam 10.00 “

Dara langsung bergegas menuju stasiun, setelah sampai distasiun Dara langhsung mencari informasi tentang kereta api yang akan meuju Semarang. Pada waktu Dandi akan naik kereta karena keretanya akan segera berangkat, tiba-tiba langkahnya berhanti karena ada suar dari jauh yang memanggil namanya.
“ Dandi tunggu aku..!!” seru Dara dari kejauhan.
“ Dara....” sahut Dandi dengan nada kaget.
“ Dandi sebelum kamu pergi aku ingin kamu tau satu hal “
“ Apa...??” seru Dandi
“ Aku akan terus ada disampingmu dan aku akan menyusul kamu ke Semarang “ jelas dara.
“ Ku tunggu kedatanganmu “ jawab Dandi dengan tersenyum.
“ Dimana kamu tinggal, nanti kalau aku kesana biar gak bingung mencari alamatmu “ tanya Dara.
Dandi memebrikan alamat pada Dara dan masuk ke gerbong kereta.
“ Jangan pernah lupakan aku .....!!!” teriak Dara dengan mata berkaca-kaca sambil tersenyum.

Setelah 1 tahun kepergian Dandi ke Semarang dan besok bertepatan dengan ujian nasional dan jika lulus nanti dia mau kuliah di Semarang agar bisa bertemu dengan Dandi. Satu minggu kemudian ujian nasional di SMA Tunas Bangsa sudah selesai dilaksanakan dan hari ini hari paling mendebarkan karena pengumuman lulus/tidaknya tergantung pada hari ini.
“ LULUS....” terika Dara dan teman-temannya.
Dara senang dan dia akan bergegas pergi ke Semarang untuk mencari Dandi dan kuliah disana. Hari ini Dara akan pergi ke Semarang dia usah gak sabar lagi ingin cepat-cepat ketemu dengan Dandi. Setelah 4 jam lamanya perjalanan dari Jakarta ke Semarang akhirnya Dara sampai di Semarang dan dia langsung mencari alamat Dandi, setelah mencari kesana kemari dan akhirnya mereka ketemu juga. Dara disambut hangat oleh keluarganya Dandi.
“ Dara aku gak percaya kalau kamu kesini “
“ Tapi sekarang percayakan...!!!” ejek Dara
“ Hehehehe...kamu lucu ya seperti Lisa aja “ sahut Dandi
Dara langsung terdiam mendengar kata-kata Dandi.
“ Ra...maafin aku, bukan maksud ku untuk menyamakan kamu dengan Lisa “ jelas Dandi.
“ Gak pa pa kok, kan Lisa juga sahabatku dan karena dia kita bisa bersatu seperti sekarang ini “
“ Ya... kamu benar, kamu dan Lisa adalah orang yang baik dan sama-sama mengisi hatiku “

Akhirnya Dara dan Dandi bersatu dan tempat kuliah mereka sama. Walaupun mereka diSemarang tetapi nama Lisa akan selalu mengisi hari-hari Dara dan Dandi. Sahabat adalah selamanya dihati Dara dan bagi Dandi Lisa adalah cinta pertamanya dan malaikat untuk keduanya.


-          End -