KONG
Kong adalah salah satu kambingku
yang amat sangat ku sukai. Bulunya halus bagai sutera, cantik bagai melati,
tanduknya oanjang melambangkan kekuatannya, badanya besar dan tinggi, seakan
tak akan tumbang oleh topan.
Minggu pagi ku gembala kambingku
itu dihutan dekat Janggleng Jati. Ku birkan mereka menikmati rumput yang lezat
dan yang sepoi-sepoi serta udara yang segar.
Sedangkan aku menunggu mereka di
bawah pohon untuk berteduh. Sebab suasana nyaman, udara segar, dan angin
sepoi-sepoi membuatku tertidur pulas tidak ingat bahwa aku menggembala kambing.
Saat ku tertidur, aku terbangun
dengan kagetnya, betapa tidak, di depanku berdiri Bapak Bambang sebagai mandor
Janggleng yang membawa pistol dan membawa Kong dihadapanku.
“ ada apa pak ?”
“ pakai tanya!” gertak pak Bambang.
“ kenapa Bapak membawa kambingku ?”
“ lihat pohon jati itu !” berobohan
karena di injak-injak kambingmu ini.
“ mohon maaf pak ?”
“ tidak bisa !”
“ sabarlah pak !” cepat tua lo,
kalao bapak marah-marah. Ok lah pak saya akan perbaiki itu semua.
“ cepat kerjakan !” saya ciak nanti
kami !
“ iya pak “ sekarang ku kerjakan.
Satu persatu pohon-pohon itu ku dirikan dengan sangat
berhati-hati. Syukurlah semuanya selesai kudirikan.
“ sudah nak “
“ sudah pak “
“ cepat kemari !“
“ baik pak “
“ besok kalau menggembala jangan
kau biarkan merusak pohon-pohon yang kecil itu “
“ iya pak “ saya tidaka akn
mengulanginya.
Setelah selesai pak Bambang pergi,
lega sekali hatiku karena masalah telah teratasi. Ku lanjutkan menggembala
kambingku sampai mereka kenyang melalap rumput.
Waktu beranjak siang, ku giring
Kong beserta yang lain pulang ke kandnag untuk beristirahat. Ku kan selalu
mengingat dan menjadikan masalah itu menjadi pelajaran hidupku.
(
Karya: Rohman )







0 komentar:
Posting Komentar