Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Senin, 05 Desember 2011

KONG


KONG

Kong adalah salah satu kambingku yang amat sangat ku sukai. Bulunya halus bagai sutera, cantik bagai melati, tanduknya oanjang melambangkan kekuatannya, badanya besar dan tinggi, seakan tak akan tumbang oleh topan.
Minggu pagi ku gembala kambingku itu dihutan dekat Janggleng Jati. Ku birkan mereka menikmati rumput yang lezat dan yang sepoi-sepoi serta udara yang segar.
Sedangkan aku menunggu mereka di bawah pohon untuk berteduh. Sebab suasana nyaman, udara segar, dan angin sepoi-sepoi membuatku tertidur pulas tidak ingat bahwa aku menggembala kambing.
Saat ku tertidur, aku terbangun dengan kagetnya, betapa tidak, di depanku berdiri Bapak Bambang sebagai mandor Janggleng yang membawa pistol dan membawa Kong dihadapanku.
“ ada apa pak ?”
“ pakai tanya!” gertak pak Bambang.
“ kenapa Bapak membawa kambingku ?”
“ lihat pohon jati itu !” berobohan karena di injak-injak kambingmu ini.
“ mohon maaf pak ?”
“ tidak bisa !”
“ sabarlah pak !” cepat tua lo, kalao bapak marah-marah. Ok lah pak saya akan perbaiki itu semua.
“ cepat kerjakan !” saya ciak nanti kami !
“ iya pak “ sekarang ku kerjakan.
Satu persatu pohon-pohon itu ku dirikan dengan sangat berhati-hati. Syukurlah semuanya selesai kudirikan.
“ sudah nak “
“ sudah pak “
“ cepat kemari !“
“ baik pak “
“ besok kalau menggembala jangan kau biarkan merusak pohon-pohon yang kecil itu “
“ iya pak “ saya tidaka akn mengulanginya.
Setelah selesai pak Bambang pergi, lega sekali hatiku karena masalah telah teratasi. Ku lanjutkan menggembala kambingku sampai mereka kenyang melalap rumput.
Waktu beranjak siang, ku giring Kong beserta yang lain pulang ke kandnag untuk beristirahat. Ku kan selalu mengingat dan menjadikan masalah itu menjadi pelajaran hidupku.

                                                                                     ( Karya: Rohman )

0 komentar:

Posting Komentar