Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Senin, 05 Desember 2011

Perencanaan Kita


Perencanaan Kita

Sore hari halaman rumah mungil tersebut kembali sesejuk biasanya, di daerah puncak pegunungan, karena Hari keluar sambil membawa seporong besar es jus melon.
A1hamdulillah, pas banget! Gue baru aja joging keliling kampung.” Ujar Aldi yang baru datang. Dia duduk sambil mengipas-ngipas diri dengan selembar brosur di tangannya.
“Ngapain Lo jogging keliling kampung?” tanya Hanafi.
Ngejar layangan.” Jawab Aldi.
“Kayak anak kecil Lo ngejar begituan” jabrik si Yudha ikut nimbrung. “Gue nih kemanin ikut ngejar malingnya Pakdhe Supri.”
Hari tertawa, “Gue paling suka ma pacar Lo Yud, gentle banget dia.”
Seketika mereka ngakak bareng. Berita malingnya pakdhe Supri memang sudah menyebar ke tiap kampung. Dengan cerita yang paling digemari adalah waktu si maling ngebut pake ‘kebo’-nya Pakdhe Supri dan seorang cewek sexy berparas model mengacung-acungkan tongkat kasti yang baru dipakainya main kasti bersama teman-temannya di lapangan, yang kebetulan malingnya lewat situ.
Endingpun sudah dapat ditebak, seluruh kampung mengumandangkan nama ‘Raras’ ketika si maling yang babak belur diseret pak hansip ke polisi terdekat.
“Raraaaas.......siapa dulu meeennn?!” ujar Yudha tersenyum.
“Har, Lo cuma bawa air seporong trus kita mo minum gantian lewat lobangnya?!” ujar Rio yang dari membaca ‘Angel and Demons’.
Ntar adik gue datang bawa gelas-gelasnya, Men. Sabaar!” Tukas Hari.
“Trus, jambu air Lo udah pada mateng kenapa nggak dibawa sekalian aja sih?!” ujar Rio lagi.
“Bentar tho Men, rakus banget sih Lo. Bentar Iagi Maya bawa gelas sekalian sekeranjang jambu air!’ tukas Hari sekali lagi.
“Lo enak ya Har tinggal di sini, rumah mungil tapi keren, ditambah buahnya dahsyat, men!” kata Hanafi, dia menutup majalah gaulnya yang sedari tadi dipegangnya.
“Gue pengen lo gak ngomong kayak itu lagi Hari, ntar kalo udah kerja, gue mo mbangun istana di Jakarta” Ujar Hari.
Yudha bertanya, “Emang mau jadi apa lo Har?”
“Insya Allah dokter.” Jawab Hari mantap.
“Woi, nggaya lo!ll”tukas Hanafi.
“Lho, nggaya gimana, gue bisa men kalo gue ada niat!”
“Iya Han, jangan bilang orang pengen sukses itu nggaya, emang lo mau jadi generasi penerus malingnya Pakdhe Supri?” sahut Rio.
“He he, nggak kok. Cuma gue sangsi ni, yakin Lo Har mau masuk fakultas kedokteran?”
Hari mengangguk.
“Kampus mana? UI?”
“Sementara kampus gue belum positif yang mana, tapi yang penting gue mau masuk kedokteran, lo jangan liat her biologi gue dong. Emang Iangganan her biologi gak bisa jadi dokter?!”
“Emang lo sendiri mo kemana Han?” tanya Aldi pada Hanafi.
“Gue udah pikir-pikir mau ke DKV aja.”
“DKV, desain grafis itu?”
“Yo’i! Di UNS.”
“Gak Iangsung ke seni murni aja?”
“Ogah ah! Udah demen gue ama DKV whatever reason.....gue tetep DKV.”
“Yah, gue pikir sih, lo cocok ke sastra Inggris Han, pinter lo cepas-ceplos kayak wong Londo. Kan masih se-fakultas tuh.” Sahut Rio.
“Beda buanget, men! DKV, desain komunikasi visual, lah sastra Inggris, sorry deh?! Gue sebenarnya ikut-ikutan aja orang bule di candi Cetho kemarin bilang kayak itu tadi whatever reason gue gak tauk tuh apa artinya tapi belakangan gue tauk maknanyaaa.”
Yang lain ketawa geli mendengarnya.
“By the way, prens. Siap diantara kita nanti yang rencana mo barengan satu kampus satu jurusan?” tanya Rio, kini dia tinggalkan novel kesayangannya demi mulai tertarik dengan perbincangan ini.
Tak ada yang menjawab. Mereka berpandangan satu sama lain, namun tetap tak ada suaranya. Maya datang membawa lima gelas kosong dan satu keranjang jambu air yang baru dipetik tadi pagi dan habis dimasukin ke kulkas, suegernya minta ampyun!
“Kalo gitu, kita ntar kalo udah kuliah harus tetep kontak satu sama lain dong. Kita pasti sama-sama sibuk.” Ujar Rio lagi, sembari mengambil satu jambu air, seiring langkah-langkah Maya kembali ke dalam rumah.
“lya prens. Gak nyangka juga udah hampir selesai status SMA kita.”
“Tuh brosur apaan sih Al, yang lo pegang itu?” tanya Hari pada Aldi.
Aldi melihat brosur di tangannya. “Mmmmm, brosur FSSR dan UNS. Punya lo ya Han?”
Hanafi mengangguk, “Gue emang baru nyari informasi tentang DKV.”
“Kayaknya asyik ya sekolah sambil nggambar.” UjarAldi.
“Jangan langsung ambil keputusan men.” Kata Rio. “Gue ceritain ni ya, adek gue yan pertama, si Sekar. Dia pengen banget besok ngambil jurusan simbologi setelah baca ‘The Da Vinci Code’ punya gue. Tapi setelah gue bilang ke dia, harus belajar sejarahnya juga, eeeehhhh malemnya dia bilang lagi ke gue mau masuk MIPA aja, padahal sebelumnya dia kepengen banget menguasai all about symbology. Tapi gue tau dia benci pelajaran sejarah.”
Temen-temennya hanya senyum-senyum aja mendengamya. Soalnya menurut mereka, Sekar, adik Rio tersebut sepertinya lebih cocok jadi Beater tim Quidditch di serial Harry Potter, karena kekuatannya gedhe, sebanding ama badannya.
Hari  melirik arloji, sebentar lagi dia harus go out menjemput tantenya di terminal. Walaupun obrolan asyik itu begitu mengikatnya untuk tetap di kursi, tapi dia tahu, mamanya bakal ngomel tujuh hari tujuh malam kalau dia telat jemput adik mamanya tersebut.
“Emang lo sendiri rencana mo kemana Al?” tanya Hari kemudian.
Aldi menghela nafas sebentar dan menjawab, “Gue gak akan kuliah, prens.”
Kontan aja yang lain terhenti dan aktivitasnya masing-masing. Rio terperangah padanya. Hari dan Hanafi saling berpandangan, bahkan Yudha yang sedari tadi membaca majalah gaul milik Hanafi, kini menurunkan majalah tersebut dan ikut mengerutkan dahi.
“Gak kuliah? Melas amat?!” sentak Rio.
“Bukan, bukannya gue mo putus sekolah kayak harapan lo terhadap gue prens..”
“Trus?” potong Hanafi.
“Gue mau masuk militer.”
Mereka semua sama melongo.
“Beneran lo, choy?!” sahut Hari.
“Ada angin apaan lo mau terbang ke militer?’ tanya Yudha.
Aldi hanya senyum-senyum geli menyebalkan.
Udah ah! Gak usah mau tau rahasia gue ma bapakgue!” ujamya kemudian.
Mendengar itu mereka justru tertawa, Aldi yang paling kocak diantara mereka emang penuh kejutan, tapi siapa tahu ada kejutan lain yang menunggu mereka.
Seusai tertawa, mereka tambah enjoy dan merasa semakin asyik aja terhadap obrolan ini, mengingat waktu juga yang semakin hari memisahkan mereka di bangku mahasiswa dan Ujian Nasional yang tinggal satu bulan lagi.
“Sekarang elo Yud, dari tadi lo sibuk amat ma tu majalah. Gantian lo dong cerita besok mau jadi apa?” ujar Hanafl.
Iya Yud, mau kemana lo?’ sambung Aldi.
Yudha meletakkan majalahnya di atas meja, memandang tenang pada yang lainnya.
“Gue bercita-cita masuk surga, men!’ jawabnya.
Tapi justru respon teman-temannya adalah jitakan bertubi-tubi di kepalanya.
“Semua orang pengen masuk surga, cho000y!!”
“Maksud kita, sebelum mati lo mau kerja apaan?”
Iya, kasian tu Raras gak elo nafkahi.”
Yudha mengelak, “Gue beneran!”
“Lo bilang kayak gitu seolah-olah kita gak peduli sholat ya?’ ujar Hari.
“Enggak! Gimana the prens, bukan itu maksud gue. Maksud gue, entah gue mau jadi apa nanti, yang penting Allah tetap nomor satu. Gituuuu!”
Teman-temannya tak menyahut lagi mendengar ucapan tersebut. Diam-diam mereka berpikir juga masalah itu. Sebuah realita lma-lama terlihat juga di benak mereka masing-masing.
Memang benar, kebanyakan ‘Youth of this Nation’ punya cita-cita setinggi Pluto tapi mereka hanya foya-foya seolah Pluto bisa terbang sendiri menuju mereka, tanpa ingat siapa lagi yang telah memberi mereka harta yang mereka buat foya-foya.
Kenyataan ini yang membuat kelima sekawan itu terdiam beberapa saat. Dan keheningan dihancurkan oleh suara Rio, “Yud, tapi kenapa lo masih pacaran ma Raras, kan dosa tuh?!”
“Siapa bilang gue masih pacaran? Gue udah break up ma dia prens, kemarin.”
“Ha?!”
“Malah gue saranin dia supaya pake jilbab.” Sambung Yudha.
Tawa geli mulai terdengar lagi diantara mereka.
“Model lo suruh pake karung?!” ujarHanafi.
“Emang reaksi dia gimana?” tanya Hari.
‘Yah, lo tau aja, setelah gue bilang kayak gitu tadi, dia ngeliat gue ini...apa ya...Seolah gue ini marmut atau malingnya pakdhe Supri atau apalah? Ya gue tau dia bakat gitu, tapi biar aja! So what gitu Iho!”
Hi..hi, gue yakin dia akan nyesel putus ma Yudha prens, masih ada buaya lain!’
“Nyindir lo ya?! Gue doain kualat beneran!”
“Nggak, nggak kok, tenang aja, yang lo lakukan udah oke, men!’
“lya, katanya tiada cinta lain kecuali Habibi....ha ha ha?!” kata Aldi.
Yudha senyum juga mendengar kata-kata itu. Dia tahu maksudnya Habibi tak lain adalah Allah SWT Cuman dulu Rio gak nyambung tengtang itu, dikiranya Aldi cinta sama Habibi, guru fisika mereka karena memang Aldi sendiri yang pertama kali bilang kayak itu.
Tawa berkumandang lagi di halaman nan segar tersebut.
“Udah yang penting adalah kita tetep di jalan-Nya, hidup karena Allah” kata Hanafi.
Gue mau jadi dokter yang suka beramal, prens.” Kata Hari.
“Kalo gue, setelah jadi penulis, gue mo dakwah lewat karya gue.” Sahut Rio
Tak terasa waktu sudah menguliti kebersamaan tersebut. Maya keluar rumah dan menyeru kakaknya, “Mas Hari, udah jam empat Iho?!”
Hari tersentak dan melotot melihat arloji di tangannya.

“Waaaah!, udah kelar men waktu gue! Sorry nih gue harus jemput si tante.”
“Ya udah gue pulang deh.” Ujar Aldi sambil bangkit dan kursi.
Hanafi pun ikut bangkit dan mengajak Yudha pulang, karena kebetulan mereka satu kampung.
Hari yang mencolot dari kursi berujar pada mereka, “Sekalian bareng aja deh, gue anter.”
Gak usah, ntar telat jemput tante lo0.” Sahut Rio.
“Nggak papa kok, ntar kan gue satu jalur ma rumah kalian. Tante ada di terminal pasar sana kok”, ujar Hari. “Ntar ya, gue keluarin mobil dulu.”
Mereka pun sepakat bareng Hari. Itung-itung ngirit tenaga. Setelah makan jambu ternyata bobot makin menyerang bo!
“Har,’jambu air lo gue abisin ya?!” teriak Rio.
“Dasar lo, rakus amat!” ujar Aldi.
“Gak papa, ini potensi gue, harus dikembangin.”
“Ya udah, jusnya gue sikat aja,” ujar Hanafi dan diambilnya porong yang tinggal seperempat isinya.
Setelah majalah-majalah, selebaran, dan paper lain dan meja dibersihkan, sedan Hari sudah kedip-kedip di luar garasi. Tak lama kemudian rnereka mendekam di dalamnya dan mobil melaju pelan di jalan aspal.
Mereka masih bercanda di dalam mobil seolah bahari gak pemah abis diolah.
“Har, gue turunin di depan gang aja ya?” Kata Rio.
Ya iyalah, masak gue harus masuk sampe depan kamar lo.”
“Yudhá turunin di depan villa puncak aja.” Kata Aldi.
“Villanya Raras ya?!”
“Yuuuk.”
Yudha melotot pada Aldi. Yang lain mulai tertawa menggoda Yudha yang berkata tegas, “Ijust want us to break up forever?’
Gue pengen tau siapa lagi tu gebetan cewek?!” ujar Hanafi.
“lya, banyak yang cemburu ma Yudha, malah ada yan meniru rambutnya di jabrik biar bersinar dilihat Raras.”
“Ha...ha.., iya tuh Yud, Raras dulu suka ma jabrik lo, kalo tetep pengen break up Jo mesti bell pecL”
Yang lain ketawa.
Gue paham kok Yud. Lo nggak tahan ma dia, ya nggak?!” kata Aldi.
Yudha cemberut kayak cewek mendengar gurauan teman-temannya.
“Udah ah diem!” sentaknya
Tapi mereka nggak mungkin diam juga hanya karena itu. Hanya saja saat itu Hari menikung tiba-tiba dan mereka melihat jalan naik turun berkelok-kelok di depan mereka.
“Hati-hati dong Har!” ujar Rio.
Hari tentu saja tahu. Tapi Allahlah yang mengatur jalan semua makhluk.. dan kelima pasang mata di dalam mobil tersebut terbelalàk ngeri saat selanjutnya sebuah truk melaju dari arah berlawanan dan Hari mencoba menghindari lobang besar di tengah jalan.
Setiap urat yang menegang saat itu tak bisa mengendur lagi. Peristiwa menohok jantung setiap orang terjadi sudah detik itu.
Di atas, di sebuah villa megah, seorang gadis remaja yang begitu cakep berteriak keras melihat sebuah mobil sedan melaju ke tepi jalan dan menabrak palang pembatas aspal dengan jurang lebar di sampingnya.
“Innalillahi wa innaillaihi roji’un !!! ucapnya kemudian, begitu refleknya menarik perhatian setiap orang di sekitarnya.
Raras menangis akan sebuah firasat buruk.

0 komentar:

Posting Komentar